-
Utamakan Keluarga
Firman Tuhan mengajarkan setiap orang percaya untuk mengutamakan keluarga dan berbuat baik kepada semua orang. Mengasihi keluarga bukan berarti mengabaikan sesama, melainkan menjalankan prioritas yang benar sesuai kehendak Tuhan.
-
Membangun Keluarga yang Kuat
Keluarga yang kuat dibangun di atas dasar Firman Tuhan dan dipimpin oleh kepala keluarga yang setia kepada Tuhan. Setiap keluarga dipanggil untuk bertumbuh dalam iman dan menjalankan panggilan Allah bersama-sama.
-
Kehidupan Keluarga Kristiani
Kepala keluarga dipanggil menjadi teladan iman, kasih, dan tanggung jawab bagi keluarganya. Renungan ini mengingatkan pentingnya membangun keluarga Kristen yang hidup sesuai firman Tuhan.
-
Menelantarkan Keluarga Lebih Buruk Dari Orang Tak Beriman
Iman yang sejati tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan melalui kasih dan tanggung jawab terhadap keluarga. Renungan 29 Juli 2026 mengajak setiap orang percaya memelihara keluarganya sebagai bukti iman kepada Kristus.
-
Kasih Tuhan yang Terlihat di Tengah Dunia yang Sibuk
Di tengah dunia yang sibuk, Tuhan memanggil setiap orang percaya menjadi terang melalui tindakan kasih yang nyata sehingga orang lain memuliakan Bapa di surga.
-
Pria Sebagai Fondasi Keluarga
Keluarga yang kuat dimulai dari fondasi yang kuat. Alkitab mengajarkan bahwa pria dipanggil menjadi pemimpin, pelindung, dan fondasi rohani bagi keluarganya agar nama Tuhan dimuliakan.
-
Membangun Keluarga yang Memuliakan Tuhan Sesuai Firman Allah

Keluarga adalah fondasi utama kehidupan yang Tuhan tetapkan. Ketika keluarga dibangun di atas nilai-nilai Kerajaan Allah, setiap anggotanya akan bertumbuh menjadi pribadi yang memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi generasi berikutnya.
-
Warisan Bernilai: Meninggalkan Warisan Rohani bagi Anak dan Keluarga
Warisan paling bernilai bukanlah harta benda, melainkan iman, pengenalan akan Tuhan, dan teladan hidup yang diwariskan kepada anak, keluarga, serta orang-orang di sekitar kita.
-
Ambisi yang Terselubung: Ketika Ego Menguasai Kehidupan Orang Percaya
Ambisi yang terselubung dapat mengubah pelayanan menjadi sarana mencari pengaruh dan pengakuan. Kerajaan Allah mengajarkan jalan kerendahan hati dan kehidupan yang serupa dengan Kristus.
-
Batas Tekanan: Tuhan Tidak Membiarkan Kita Dicobai Melampaui Kekuatan
Setiap manusia memiliki batas daya tahan. Namun Tuhan mengetahui kekuatan kita dan tetap menyertai, menguatkan, menjaga, serta melindungi umat-Nya.
-
Berbuah Kerukunan: Belajar Hidup Rukun dan Membawa Damai Tuhan
Kerukunan adalah buah dari hati yang mau diubahkan Tuhan. Belajar mengampuni, merendahkan hati, dan membawa damai melalui kehidupan kita.
-
Pola Pikir Kerajaan Allah: Belajar Melihat Hidup dari Perspektif Tuhan
Banyak orang percaya hidup benar, tetapi masih menggunakan pola pikir lama. Firman Tuhan mengajak kita mengalami pembaharuan budi agar dapat memahami kehendak-Nya.
-
Tuhan Memakai Orang yang Setia, Bukan Hanya yang Terkenal
Bacaan Kitab Setahun: Filipi 1; Ayub 36–38 “Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: ‘Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.’”(2 Raja-raja 5:3) Nama Naaman dikenal sebagai panglima perang yang disegani. Ia memiliki kedudukan tinggi, kehormatan, dan kekuasaan. Namun semua itu tidak mampu menyembuhkan penyakit kusta yang dideritanya. Yang menarik, harapan kesembuhan justru datang bukan dari seorang pejabat, tabib terkenal, ataupun penasihat kerajaan, melainkan dari seorang gadis kecil yang menjadi tawanan perang Israel. Dari sudut pandang dunia, gadis itu tidak memiliki posisi penting. Namanya bahkan tidak dicatat dalam Alkitab. Ia hanyalah seorang…
-
Pembapakan Kristen: Menjadi Ayah yang Hadir dan Bertanggung Jawab
Bacaan Kitab Setahun: Efesus 6; Ayub 33–35 “Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.”(1 Timotius 3:12) Beberapa puluh tahun terakhir, istilah fathering atau pembapakan semakin sering terdengar di gereja. Buku-buku tentang “Bapa Rohani”, seminar “Hati Bapa”, hingga pelatihan kepemimpinan model kebapaan bermunculan. Intinya sama: pria diajar menjadi figur yang mengayomi, melindungi, memberi nilai, dan menjadi teladan di rumah, gereja, maupun tempat kerja. Namun pertanyaannya adalah, apakah menjadi ayah yang baik cukup dipelajari melalui seminar? Ataukah harus dijalani setiap hari dalam kehidupan nyata? Realitanya, banyak pria mengalami kesulitan menjadi ayah yang sehat karena mereka sendiri…
-
Hidup dalam Komunitas Kristen yang Berbuah dan Memuliakan Tuhan
Bacaan Kitab Setahun: Efesus 5; Ayub 30–32. “… Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudaranya juga.”(1 Yohanes 4:21) Hidup rohani bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Tuhan melalui doa, Firman, dan ibadah. Semua itu penting, tetapi Tuhan juga memanggil kita hidup dalam komunitas Kerajaan Allah. Kita tidak dirancang untuk berjalan sendiri. Iman bertumbuh dan nyata melalui relasi dengan sesama. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa jika kita mengasihi Tuhan, maka kita juga harus mengasihi sesama. Ini bukan pilihan, tetapi perintah. Bahkan dalam 1 Yohanes 4:20 dikatakan bahwa “jika seseorang berkata ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, ia adalah pendusta.” Ini…
-
Selamat Menurut Alkitab: Makna Keselamatan yang Seutuhnya dalam Kristus
Bacaan Kitab Setahun: Efesus 4; Ayub 26–29. “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”(Matius 10:22 – TB) Dalam sebuah cerita pewayangan Punokawan, terjadi sebuah dialog, “Menurut kalian, apa kebutuhan pokok dalam hidup?” tanya Gareng. Bagong langsung menjawab, “Harta! Buktinya semua orang ingin kaya!” Petruk memotong, “Keliru! Yang paling penting itu kekuasaan. Semua orang ingin berkuasa.” “Kalian berdua keliru,” kata Gareng. “Apa gunanya punya gunung emas dan lumbung berlian menjadi raja atau penguasa jika tubuh sakit-sakitan, alias tidak selamat? Jadi yang paling penting itu selamat?” “Selamat bagaimana?” tanya Bagong dan…
-
Komunitas Eksklusif atau Inklusif? Belajar Menerima Sesama Menurut Alkitab
Bacaan Kitab Setahun: Efe. 3; Ayub 22–25 “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:19) Ayat di atas adalah pesan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus—kota perdagangan yang sangat strategis (sekarang daerah Turki) adalah kawasan yang menjadi persimpangan benua Asia dan Eropa. Dengan penduduk yang heterogen, dengan tiga kelompok besar, yaitu orang Romawi, Yahudi, dan juga Yunani. Membuat jemaat Efesus pun tidak luput dari konflik internal, khususnya antara orang percaya dari latar belakang Yahudi dan non-Yahudi, terutama terkait keistimewaan status dan adat istiadat. Juga persoalan…
