
Sejarah Pelayanan
Bp. Pdt. Markus Prasetya
Lahir di Solo 29 Okt 1942
Terlahir dengan nama Siem Cin Gie dan berganti nama menjadi Markus Prasetya.
Bp. Pdt. Markus Prasetya dibaptis : 10 Juni 1966 Oleh Pdt Petrus Iman Santoso di GUP Pasar Legi – Solo.
Pada Januari 1967 masuk Akademi Theologia Abdiel – Ungaran, Semarang. Bp. Pdt. Markus Prasetya mencatat bahwa selama sekolah di Abdiel seperti masa “Travail” karena ada pergumulan yang keras s.d 1970 selesai pendidikan.
Pada periode 1970–1972 menjadi pengerja di GUPDI Jemaat Pasar Legi
Pada bulan Februari 1972 Bp. Pdt. Markus Prasetya diutus Tuhan lewat Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso untuk melayani di GUPDI jemaat Kartasura s/d Tuhan memanggil pulang ke surga pada hari Rabu tanggal 7 Mei 2025. Sehingga Bp. Pdt. Markus Prasetya menggembalakan GUPDI Jemaat Kartasura sepanjang 53 tahun.

Dalam permulaan penggembalaan, Pak Markus mendasari dengan Firman Tuhan Ibrani 13:5–8, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ”Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
Bp. Pdt. Markus Prasetya menikah pada tahun 1975 dengan Ibu Dianawati Hadi Darmono (Ibu Markus Prasetya) di Gereja Isa Almasih Semarang.
Dalam pernikahanannya Bp. Pdt. Markus Prasetya dikaruniai 3 orang putra :
- Yohanes Prasetya
- Yonatan Prasetya
- Yosia Prasetya
Bp. Pdt. Markus Prasetya sangat mengasihi jiwa-jiwa sehingga beliau menyukai penginjilan dan perintisan, sehingga banyak jiwa diselamatkan selama pelayanan beliau.
Area Perintisan, Pos PI dan cabang yang dirintis atas penyertaan Tuhan ada di beberapa tempat antara lain 23 POS PI di area Kartasura (diantaranya GUPDI Jemaat Bolon, GUPDI Jemaat Bedodo (Gawok), GUPDI Jemaat Delanggu) dan beberapa POS PI di luar area Kartasura seperti di kota Yogya, Salatiga, beberapa gereja di Kalimantan Barat – Pontianak, Sekadau hulu, Rawak, Boti, Sekora, Sulang Betung, Engkiteh dan daerah pedalaman lainnya)
Bp. Pdt. Markus Prasetya juga menjadi pelopor berdirinya Sekolah Alkitab untuk calon hamba Tuhan untuk GUPDI yaitu PLPII (Pusat Latihan Pekabaran Injil Indonesia).
Bp. Pdt. Markus Prasetya dipanggil Tuhan pada hari Rabu, 7 Mei 2025 pada Usia 83 tahun.
Dalam pelayanannya Bp. Pdt. Markus Prasetya mendasari pelayanan pada pengajaran dan praktek hidup yang kuat tentang Iman, Doa dan Penginjilan.
Prinsip pelayanan yang dikenal adalah gembala yang baik duduk bersama jemaat, mengenal domba – dombanya dengan baik. Jemaat yang ditinggalkan sangat mengenal bahwa Pak Markus punya hati yang sangat mengasihi jemaat. Pesan-pesan terakhir yang disampaikan sebelum Pak Markus dipanggil Tuhan adalah mengenai HATI GEMBALA, dan permintaan jemaat dipelihara sebaik mungkin “jangan sampai ada yang kapiran”
Ayat yang menjadi andalan dalam melayani selama 53 tahun diambil dari Yohanes 21:15, “Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Pada 1984 Bp. Pdt. Markus Prasetya menuliskan Sejarah GUPDI Jemaat Kartasura.
Sejarah Singkat Berdirinya GUPDI Jemaat Kartasura
Gema amanat Agung Tuhan Yesus Kristus tertulis dalam Injil Matius dan Markus tetap bergema pada setiap hati orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus. Demikian pula dalam hati pelayan-pelayan Injil dari Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia yang pada awalnya dipimpin oleh Zurter Alt, yang tadinya Zuster … Sumberporong Surabaya. (catatan tangan: seorang baby sister dari Belanda)
Gema pelayanan Injil Gereja Utusan Pantekosta itu menjangkau pula Jawa Tengah, dan diantaranya memasuki daerah Kartasura.
Kehadiran dalam pelayanan dan pemberitaan Injil Gereja Utusan Pantekosta di daerah Kartasura memang sudah cukup lama, hanya secara tepatnya kapan dimulai kami sendiri tidak mengetahuinya, tetapi berdasarkan beberapa catatan dan ingatan dari saudara-saudara yang sudah lama menjadi anggota Gereja Utusan Pantekosta Kartasura dan beberapa kali cuplikan-cuplikan riwayat Gereja Utusan Pantekosta Kartasura yang disampaikan oleh Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso yang kami dengar, maka kami mencoba menyusun sejarah Gereja Utusan Pantekosta dengan singkat.
(catatan tangan di samping: 1938)
I. Zaman Sebelum Kemerdekaan
Waktu negara kita masih dijajah Belanda (zaman Hindia Belanda) kira-kira pada tahun 1936 – 1937 Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso dengan seorang kepala polisi Belanda di Kartasura yaitu Tuan Volmer sudah melayani pemberitaan Injil di Gereja Utusan Pantekosta Kartasura, dan gereja itu bertempat di Gembongan (di rumah keluarga Tuan Volmer).
Jumlah anggota waktu itu kami tidak mengetahui karena tidak adanya arsip-arsip/catatan-catatan yang ada, tetapi berdasarkan satu foto yang ada pada kami kira-kira anggota waktu itu ada 60 jiwa (dewasa dan anak-anak). Waktu itu nama gereja masih De Pinster Zending.
Tahun 1938 Tuan Volmer sekeluarga pulang ke negeri Belanda, pelayanan dilanjutkan oleh Bp. Pdt. Petrus dan karena rumah Tuan Volmer dikembalikan kepada pemerintah, maka gereja pindah ke desa Kartasura (Gembongan – Kartasura jaraknya kira-kira 3 km).
Di Kartasura mula-mula menempati rumah Ny. Goei Siek Nio dan kemudian pindah ke rumah lain yang sekarang dikenal dengan toko Madiun.
Dengan ketekunan-ketabahan dan keuletan iman Bp. Pdt. Petrus, melayani pemberitaan Injil di Kartasura, dan mulai banyak menempu banyak tantangan-tantangan.
Terutama tantangan zaman, dimana mulai tahun-tahun itu dunia memasuki masa Malaise dan perang dunia ke II dan perang Asia Timur Raya, dan adanya pergolakan-pergolakan politik di Indonesia. Lebih-lebih setelah pemerintah Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, begitu sulit penghidupan waktu itu, sehingga pasti sangat mempengaruhi perkembangan gereja.
Sehingga anggota-anggota gereja waktu itu banyak yang tercerai-berai sehingga menurut yang kami dengar sejarahnya tiap-tiap kali kebaktian yang hadir tinggal 4 atau 5 orang.
II. Masa Revolusi dan Perang Kemerdekaan
Tahun 1946 Negara kita dalam kancah Revolusi dan perang kemerdekaan, sehingga keadaan keamanan di daerah-daerah sangat berbahaya sekali, maka dengan terpaksa kegiatan pelayanan Gereja Utusan Pantekosta ditiadakan, sampai beberapa waktu lamanya, sampai keadaan aman kembali.
Waktu itu Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso mulai pelayanan di kota Sala.
III. Dalam Alam Kemerdekaan
Tahun 1956 Negara kita boleh dikatakan sudah benar-benar aman, dan oleh kemurahan Tuhan, tahun itu pula oleh doa dan usaha Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso dan beberapa anggota Gereja Utusan Pantekosta Kartasura yang masih setia dan yang sering kebaktian di Sala (Gereja Utusan Pantekosta di Jl. Lojiwetan (sekarang Jln. Baja) diusahakan kembali membuka pelayanan di Kartasura.
Saat itu diperoleh tempat di rumah Mak Tjiauw Tjay, maka mulailah kembali Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso dengan penuh perjuangan roh, jiwa dan tubuh, memperjuangkan pelayanan di Kartasura, yang tentunya diawali kembali dengan jiwa yang sedikit, tetapi oleh kemurahan Tuhan, taburan-taburan benih itu mulai bertumbuh pula.
Tahun 1958 tempat Kebaktian pindah ke rumah Bp. The Tjwan Liang, dan Bp. (catatan tangan: Bp. Sosro Wardoyo)
Bp. The Tjwan Liang sendiri juga dengan tekun membantu pelayanan ini dengan penuh penyerahan kepada Tuhan Yesus, sehingga gereja makin berkembang.
Tapi waktunya Tuhan untuk Bp. The rupanya sudah datang, tahun 1964 beliau dipanggil pulang oleh Tuhan Yesus.
Tahun itu pula Gereja Utusan Pantekosta diusir dari rumah itu oleh anaknya angkat yang bernama Pdt. The Kong Yan (Lukas Adam T.W.).
Betapa susah waktu itu Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso dan sidang jemaat mengalami hal semacam itu, tetapi Tuhan Yesus itu baik, tidak lama kemudian didapat tempat yang baru, cukup luas yaitu di rumah Ibu Purnami.
Tapi disinipun tidak lama karena banyaknya gangguan-gangguan dalam kebaktian, sehingga Tuhan pindahkan lagi tempat kebaktian Gereja Utusan Pantekosta Kartasura, yaitu di Pabrik Kertas Kartasura, di desa Pucangan.
Maka oleh kemurahan Tuhan sesudah mengalami begitu banyak timbusan ombak dan badai kesulitan, Gereja Utusan Pantekosta Kartasura mendapat anugerah sebidang tanah di Jln. Giringan No. 229, Kartasura. (sekarang Giringan no 9)
Mulailah dengan pergumulan doa Bp. Pdt. Petrus Iman Santoso dan jemaat Sala dan Kartasura, mengawali pembangunan gereja. Dan puji Tuhan tahun 1967 akhir pembangunan Gereja Utusan Pantekosta selesai dan ditahbiskan oleh Bp. Pdt. Petrus Iman Santosa.
Dengan berkembangnya Gereja Utusan Pantekosta Sala dan Kartasura, maka perlu adanya pengerja yang ditaruhkan di Kartasura, maka pada tahun 1970 s/d 1971 ditaruhlah sdr. Lukas Lilik Budi Setianto sebagai pengerja full timer, tapi rupanya tidak ada kesesuaian dengan jemaat. Maka pada tahun 1971 akhir Saudara Lukas dipindahkan ke GUP Bandung membantu Bp. Pdt. J.N. Obaja.
Sejak tahun 1972 sampai kini ditaruhkanlah pengerja Markus Prasetya.
Demikian sejarah singkat berdirinya Gereja Utusan Pantekosta Kartasura, banyak kekurangan dalam penyusunan ini, kami mohon dimaafkan.
Kartasura, akhir Oktober 1984
Penyusun
Pdt. Markus Prasetya
