Bacaan Kitab Setahun: Filipi 3; Ayub 41-42

“Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.”
Kisah Para Rasul 15:37-38

Saudara, mengasihi orang yang mudah dikasihi itu tidak sulit. Mereka yang setia, yang selalu ada, yang tidak pernah mengecewakan—kita pun dengan ringan membuka hati bagi mereka. Tapi bagaimana dengan orang yang pernah mengecewakan kita? Yang meninggalkan saat kita membutuhkannya? Yang gagal memenuhi harapan kita?

Di sini kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi. Paulus, dengan ketegasan dan visinya, menolak Markus karena pernah meninggalkan pelayanan. Dari sudut pandangnya, itu masuk akal. Tapi Barnabas melihat dari sudut yang berbeda. Ia tidak hanya melihat kegagalan Markus, tapi ia melihat masa depannya. Ia memilih memberi kesempatan kedua.

Bukankah sering kali kita lebih mirip Paulus? Ketika seseorang mengecewakan kita, refleks pertama kita adalah menjaga jarak, bahkan menutup pintu. Kita tidak mau terjebak lagi dalam kondisi yang sama. Dan itu wajar, karena luka memang nyata.

Pertanyaannya? Apakah kita hanya mau mengasihi orang yang sempurna, atau kita juga mau memberi ruang bagi mereka yang masih dalam proses? Kalau jujur, kita pun pernah ada di posisi Markus—pernah gagal, pernah mundur, pernah tidak setia. Memang lebih mudah mengingat kesalahan orang lain daripada memberi mereka kesempatan lagi. Tapi di saat yang sama, Tuhan mengingatkan bahwa kita pun hidup dari kesempatan kedua, ketiga, bahkan berkali-kali yang Dia berikan.

Barnabas mencerminkan hati Kristus, hati yang tidak buru-buru menolak, tetapi sabar memulihkan. Dan hasilnya tidak sia-sia. Markus yang dulu dianggap “tidak layak”, akhirnya menjadi pribadi yang sangat berguna. Bahkan dipakai Tuhan menulis Injil.

Mungkin hari ini ada nama yang muncul di pikiranmu, seseorang yang pernah melukai atau membuatmu kecewa. Tuhan tidak selalu meminta kita langsung percaya sepenuhnya lagi, tetapi Dia mengundang kita untuk mulai membuka hati, memberi ruang, dan tidak menutup masa depan seseorang hanya karena masa lalunya.

Karena pada akhirnya, kasih yang sejati bukan hanya tentang menerima yang sempurna, tetapi tentang memberi kesempatan bagi yang sedang dipulihkan.

Renungkan Hari Ini

  • Apakah saya masih menyimpan kepahitan terhadap seseorang yang pernah mengecewakan saya?
  • Mampukah saya melihat potensi yang Tuhan kerjakan dalam hidup orang lain, bukan hanya masa lalunya?
  • Sudahkah saya mengingat bahwa saya sendiri hidup karena kasih karunia dan kesempatan kedua dari Tuhan?

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak menyerah atas hidupku meskipun aku sering gagal. Ajarku memiliki hati seperti Barnabas, yang mampu melihat harapan dan masa depan seseorang. Tolong aku mengampuni, membuka hati, dan menjadi alat pemulihan bagi sesamaku. Amin.

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *