Bacaan Kitab Setahun: Lukas 2:1-20; Maz. 93-96.

“Dari jauh Tuhan menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu kepadamu.” Yeremia 31:3

Pertanyaan sering muncul saat seseorang lahir baru atau dibaptis seringkali diberi nama baru di depan nama mereka, memang tidak semua melakukannya, namun tradisi ini menjadi lazim di banyak gereja di Indonesia. Terlebih jika nama sebelumnya memiliki arti yang negatif biasanya langsung diberi nama baru yang berarti positif. Jika kita melihat kembali Alkitab, sebelum Yesus Kristus memakai orang-orang menjadi perpanjangan tangan-Nya, Dia mengubah citra diri mereka terlebih dulu. Ketika Yesus bertemu Simon, Ia memberi nama baru dengan sebutan Petrus atau Kefas. Ketika Ia bertemu dengan Natanael, Yesus mengatakan bahwa ia seorang Israel sejati, dan ia akan melihat hal-hal yang lebih besar.

Kita tidak membahas apa pentingnya pergantian nama seseorang setelah lahir baru, tapi lebih kepada perubahan citra diri yang memungkinkan seseorang melangkah sesuai citra dirinya yang baru, dan bukan dengan citra dirinya yang lama. Hakim-hakim 6:12 menceritakan bagaimana Allah memanggil Gideon sebagai pahlawan yang gagah perkasa, tapi itu terwujud setelah Gideon mempercayai Allah dan berani melangkah bersama Allah untuk mewujudkannya. Sebelumnya, Gideon hanya terpaku pada fakta ia berasal dari suku yang terkecil di bangsanya. Namun Allah kita adalah Allah yang visioner, Ia melihat ke depan, IA membuat Gideon menyadari bahwa citra dirinya bukanlah pecundang, melainkan pahlawan yang gagah perkasa.

Citra diri yang benar dan sehat adalah cara pandang diri kita seperti Allah melihat kita, sebagai ciptaan yang mulia dan berharga, serta dikasihi oleh Allah. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4) Allah tidak hanya menamai orang-orang tertentu dan memilihnya secara acak siapa yang berharga dan dikasihi, seolah-olah beberapa dari kita terlewat, tapi Alkitab dengan jelas mengatakan kita semua adalah utuh di dalam Yesus, dan sangat dikasihi-Nya.

Jika kita mampu melihat bagaimana Allah menciptakan kita dan menilai kita berharga seperti yang Ia katakan, maka kita akan mendapatkan kepercayaan diri dalam hubungan kita dengan-Nya dan dengan setiap orang di sekeliling kita. Ingatlah, engkau berharga, mulia dan dikasihi oleh Tuhan. Be Strong! (JB)

Renungkan Hari Ini

  1. Selama ini, bagaimana saya melihat diri saya sendiri?
  2. Apakah saya lebih sering melihat kekurangan diri daripada melihat bagaimana Tuhan memandang saya?
  3. Apakah ada pengalaman masa lalu yang masih membentuk citra diri saya secara negatif?
  4. Apa yang berubah ketika saya mulai percaya bahwa saya berharga dan dikasihi Tuhan?
  5. Apakah saya sudah mampu melihat orang lain sebagai pribadi yang juga berharga dan dikasihi Tuhan?
  6. Dalam hal apa Tuhan sedang mengajak saya memiliki citra diri yang baru?

Doa

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengasihi aku dengan kasih yang kekal. Ampunilah aku ketika aku terlalu sering melihat diriku berdasarkan kegagalan, kekurangan, penolakan, atau perkataan orang lain. Ajarlah aku melihat diriku seperti Engkau melihatku: berharga, mulia, dan dikasihi. Tolong aku untuk hidup dengan identitas yang baru dan membawa kasih-Mu kepada orang-orang di sekitarku. Amin.

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *