Bacaan Kitab Setahun: 1 Timotius 4; Mazmur 66–68
“Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan….” (Yesaya 53:10)
Bagi kita, wajar muncul pertanyaan mendasar: Mengapa Yesus mau menjalani penderitaan yang sangat menyakitkan, diremukkan, berdarah-darah, dan disalibkan? Siapa penggagas penyaliban tersebut?
Berdasarkan ayat di atas, tak lain dan tak bukan adalah Allah yang berkehendak. Paulus menuliskan:
“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” (Roma 3:25)
Jadi, Allah sendirilah yang menentukan Kristus Yesus diremukkan dengan berdarah-darah. Mengapa Kristus harus diremukkan dan disalibkan? Jawabannya jelas, yaitu menjadi jalan pendamaian dan menunjukkan keadilan Allah.
Keadilan Allah menuntut setiap manusia berdosa menerima hukuman kekal karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Upah dosa ialah maut.
Namun karena kasih-Nya, Allah tidak membiarkan manusia binasa. Kristus Yesus disalibkan sebagai korban penebusan sehingga manusia dapat diperdamaikan dengan Allah.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
Kini kita memahami bahwa salib Kristus adalah perwujudan keadilan sekaligus kasih Allah. Keadilan-Nya menuntut hukuman atas dosa, sementara kasih-Nya menyediakan keselamatan melalui Yesus Kristus.
Renungkan Hari Ini:
- Apakah saya benar-benar memahami makna salib dalam kehidupan saya?
- Sudahkah saya mensyukuri kasih Allah yang dinyatakan melalui pengorbanan Kristus?
- Bagaimana seharusnya saya merespons kasih dan keadilan Allah dalam kehidupan sehari-hari?
Doa:
Bapa di Surga, terima kasih karena melalui salib Kristus Engkau menunjukkan kasih dan keadilan-Mu yang sempurna. Tolong aku agar tidak pernah menganggap remeh pengorbanan Yesus, tetapi hidup dalam rasa syukur, pertobatan, dan ketaatan kepada-Mu setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan