Bacaan Kitab Setahun: Ibrani 9; Yes. 39- 31.
“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah² Ia kekurangan apa², karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” (Kis. 17:24-25 – TB)
Ada sebuah pernyataan, “Tuhan terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam satu agama.” Sebagai anggapan bahwa Tuhan tidak dapat “dimonopoli” oleh satu agama tertentu, melainkan menjadi milik semua agama di dunia.
Pernyataan tersebut mengingatkan kisah tentang ikan yang disimpan di dalam sebuah botol kecil. Ketika tutup botol dibuka, jin itu keluar dan memperlihatkan kuasanya. Namun, selama berada di dalam botol, ruang geraknya dibatasi. Namun, ilustrasi ini menggambarkan bahwa kebesaran Allah tidak mungkin dibatasi oleh sesuatu yang diciptakan manusia, termasuk oleh bangunan, tempat, ataupun sistem keagamaan.
Doa Salomo ketika Bait Allah selesai dibangun: “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.” (1 Raja 8:27) Ayat ini menunjukkan bahwa kebesaran Allah melampaui segala sesuatu. Jangankan sebuah agama atau bangunan, langit yang mengatasi segala langit pun tidak sanggup memuat kemuliaan-Nya.
Dalam kita Keluaran, Allah memberikan berbagai ketetapan yang menjadi dasar kehidupan dalam beribadah dan menaati kehendak-Nya. Dengan kata lain, agama bukanlah pencipta Allah. Sebaliknya, Allah lebih dahulu menyatakan diri-Nya, lalu memberikan firman dan ketetapan sebagai pedoman bagi umat-Nya. Meskipun kuasa Allah tidak dapat dibatasi oleh agama, Alkitab menyatakan bahwa Allah menyediakan satu-satunya jalan bagi manusia untuk datang kepada-Nya. Di tengah banyaknya pandangan yang mengklaim sebagai jalan menuju kebenaran, iman Kristen berdiri di atas pengakuan yang berasal dari perkataan Yesus sendiri. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Inilah dasar iman Kristen. Yesus tidak hanya mengajarkan jalan menuju Allah, tetapi Dialah Jalan itu sendiri, bukan sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan adalah Kebenaran itu sendiri. Ia juga bukan hanya memberikan hidup, tetapi Dialah sumber hidup kekal. Iman Kristen tidak dibangun di atas ajaran moral atau tradisi keagamaan, melainkan pada pribadi Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan sumber kehidupan yang kekal.
Renungkan Hari Ini
- Apakah aku sungguh mengenal Tuhan melalui firman-Nya, atau hanya mengenal kebiasaan dan tradisi keagamaan?
- Apakah aku pernah membatasi cara Tuhan bekerja berdasarkan pemahamanku sendiri?
- Apa arti pengakuan bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup dalam keputusan sehari-hariku?
- Bagaimana aku dapat membagikan imanku kepada orang lain dengan kasih, kerendahan hati, dan tetap berpegang pada kebenaran firman Tuhan?
Doa
Tuhan Yesus, ampunilah aku jika selama ini aku membatasi-Mu dengan pemahamanku yang terbatas. Tolong aku semakin mengenal-Mu melalui firman-Mu dan hidup dalam kebenaran-Mu. Ajarku menyatakan iman dengan kasih dan kerendahan hati, serta tetap setia kepada-Mu sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Amin.

Tinggalkan Balasan