Bacaan Kitab Setahun : 2Pet. 2; Yer. 6-8.
“Janganlah kamu mengasihi dunia & apa yg ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tdk ada di dlm orang itu. Sebab semua yg ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging & keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1Yoh. 2:15-16)
Rasul Yohanes tidak berkata, “Jangan hidup di dunia,” melainkan, “Jangan mengasihi dunia.” Artinya, jangan sampai hati kita terikat, bergantung, dan menemukan identitas serta kepuasan hidup pada hal-hal yang fana. Dunia seharusnya hanya menjadi sarana, bukan tujuan. Banyak orang memulai perjalanan rohaninya dengan penuh air mata dan kerinduan akan Tuhan – haus akan hadirat-Nya, setia melayani, rela berkorban, bahkan mengutamakan Tuhan di atas segalanya, namun seiring waktu, Tuhan memberkati pekerjaan mereka, usaha berkembang, penghasilan meningkat, kehidupan menjadi mapan. Perlahan-lahan gaya hidup berubah. Yang dulu sederhana menjadi mewah, pergaulan berubah, selera hidup semakin tinggi. Waktu untuk Tuhan makin sedikit. Hati yang dahulu mudah tersentuh Firman kini lebih sibuk mengejar kenyamanan. Pelayanan dan mimbar mungkin masih berjalan. Jabatan masih ada. Orang masih mengagumi. Tetapi kasih kepada Bapa mulai memudar.
Secara lahiriah terlihat berhasil, tetapi secara rohani sedang mengalami kekeringan. Mereka seperti semut yang mati di tengah tumpukan gula. Bukan karena kekurangan, tetapi karena kelimpahan yang tidak lagi dikuasai, melainkan justru menguasai dirinya. Firman mengingatkan: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. …Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan …tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5)
Perhatikan, Allah tidak pernah meninggalkan kita. Yang berubah adalah hati kita. Ketika uang dan harta menjadi sumber rasa aman dan ukuran keberhasilan, ketika status menjadi identitas diri, saat itulah kasih kepada Bapa mulai tergeser. Uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang sangat kejam. Ketika tidak pernah mengenal kata “cukup” akan terus mengejar lebih banyak dan tidak pernah benar-benar puas. Akhirnya ia kaya secara materi, tetapi miskin secara rohani.
Salah satu tanda kedewasaan rohani bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan apakah kita masih bisa berkata, “Tuhan, Engkau saja sudah cukup bagiku.” Jangan sampai kita berhasil menurut dunia, tetapi gagal di hadapan Allah. Sebab ketika kasih kepada dunia menjadi lebih besar daripada kasih kepada Bapa, kita mungkin masih terlihat hidup, tetapi perlahan-lahan sedang mati secara rohani. (DD)
Renungkan Hari Ini
- Apakah ada hal-hal duniawi seperti uang, kenyamanan, pekerjaan, atau status yang mulai mengambil tempat Tuhan dalam hidup saya?
- Apakah saya masih merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, atau terus mengejar lebih banyak tanpa batas?
- Apa langkah nyata yang dapat saya lakukan minggu ini untuk kembali mengutamakan Tuhan?
Doa
Tuhan, periksa dan luruskanlah hatiku. Ampuni aku jika selama ini lebih mengejar kenyamanan dan keberhasilan dunia daripada mencari hadirat-Mu. Ajarku menggunakan berkat-Mu dengan bijaksana tanpa menjadikannya sebagai sumber keamanan hidupku. Biarlah Engkau tetap menjadi yang terutama dalam hatiku. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

Tinggalkan Balasan