Bacaan Kitab Setahun: Lukas 10:1-24; Maz. 136-138.
“Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya mencenderungkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.” (1 Raja 11:4)
Tidak ada raja yang start lebih kuat daripada Salomo. Hikmatnya legendaris, bait Allah dibangunnya, dan di awal pemerintahannya ia bahkan menolak meminta kekayaan demi hikmat untuk memimpin umat. Tetapi pasal sebelas membuka dengan kalimat yang menjatuhkan: ia mencintai banyak perempuan asing.
Itu bukan keputusan satu malam. Pernikahan politik dengan putri Mesir, lalu perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon, dan Het, terjadi bertahun-tahun. Tidak ada dari pernikahan itu yang langsung membuat Salomo menyembah Kemos atau Moloch. Terjadinya pelan-pelan dan berbahaya: hatinya perlahan condong, sedikit demi sedikit, sampai pada masa tuanya ia tidak lagi sepenuh hati berpaut kepada Tuhan. Di sinilah letak peringatannya. Kerapuhan iman bukan karena sebuah keputusan besar yang tiba-tiba, tetapi karena kompromi kecil terus diulang sampai menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu akhirnya membentuk arah hatinya. Hikmat yang ia minta di masa muda tidak otomatis menjaga ketaatannya di masa tua. Karunia rohani dan jabatan rohani bukan jaminan ketahanan iman.
Paulus menyebut hidup iman seperti pertandingan lari, bukan lompatan sekali jalan atau seberapa cepat ia berlari, tetapi apakah ia masih berlari dengan benar di putaran terakhir. Banyak orang berhenti mempertahankan diri justru setelah merasa sudah cukup lama berjalan dengan Tuhan, seolah iman yang sudah teruji puluhan tahun aman dari pergeseran.
Pertanyaannya adalah apakah ada yang sedang Anda biarkan tumbuh, yang tampaknya kecil dan tidak berbahaya sekarang. Cinta yang salah tempat, kompromi yang dianggap wajar, kebiasaan yang dibiarkan karena terasa terlalu kecil untuk dilawan. Kejatuhan rohani jarang terjadi dengan dramatis tetapi diam-diam, lewat akumulasi pilihan kecil yang tidak pernah dihentikan. Menjaga hati bukan tugas yang selesai di satu titik kehidupan tetapi harus terus dikerjakan sampai garis akhir, sebab pertandingan iman dimenangkan bukan di awal yang kuat, melainkan di akhir yang tetap setia.
Ironisnya, orang yang paling rentan bukan orang yang baru kenal Tuhan, melainkan orang yang sudah lama berjalan dengan-Nya dan merasa fondasinya sudah cukup kuat untuk tidak perlu lagi waspada. Salomo membangun bait Allah dengan tangannya sendiri, tetapi bait itu tidak otomatis melindungi hatinya dari penyembahan yang lain. Pelayanan yang sudah selesai lalu tidak pernah menjadi alasan untuk lengah di masa kini. (DH)
Renungkan hari ini:
- Apakah ada kebiasaan, kompromi, atau pilihan kecil dalam hidup saya yang perlahan mulai menjauhkan hati saya dari Tuhan?
- Apakah saya selama ini terlalu merasa aman karena sudah lama berjalan dalam iman atau pelayanan?
- Bagian mana dalam kehidupan rohani saya yang perlu kembali saya jaga dengan lebih serius?
- Apa langkah nyata yang dapat saya lakukan hari ini untuk tetap setia kepada Tuhan sampai akhir?
Doa
Tuhan, aku bersyukur karena Engkau telah menuntun perjalanan hidup dan imanku sampai hari ini. Namun aku sadar bahwa perjalanan iman bukan hanya tentang bagaimana aku memulainya, tetapi juga bagaimana aku menjalaninya sampai akhir.
Tolong aku untuk menjaga hatiku. Berikan kepekaan untuk mengenali setiap kompromi kecil yang perlahan dapat menjauhkan aku dari-Mu. Jangan biarkan aku merasa terlalu aman karena pengalaman, pelayanan, atau perjalanan iman yang sudah kulewati.
Berikan aku kekuatan untuk tetap setia, rendah hati, dan waspada. Biarlah hidupku tidak hanya kuat di awal, tetapi juga tetap teguh ketika menghadapi berbagai godaan dan tantangan sampai akhir. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan