Bacaan Kitab Setahun : Lukas 9:1-36; Maz. 126-130.
“Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku …”
(Rut 1:21 – TB)
Dalam hidup kadang kita merasa Tuhan sedang berpihak pada kehancuran kita. Naomi pergi ke Moab dengan suami dan dua anak laki-laki – keluarga yang utuh dan masa depan yang cerah. Namun yang pulang hanyalah seorang perempuan tua yang berduka, dengan tangan yang kosong dan nama yang sudah tidak terasa cocok lagi. Naomi artinya “yang menyenangkan” – tetapi ia meminta dipanggil Mara, yang pahit.
Dari sudut pandang manusia, keluhan Naomi sangat masuk akal. Telah kehilangan keluarga dalam perantauan? Inilah paradoks iman : yang tampak sebagai akhir dari segalanya, di tangan Tuhan menjadi awal dari segalanya.
Yang tidak disadari Naomi adalah bahwa ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa Rut – seorang perempuan Moab yang setia, yang dengan berani meninggalkan segalanya demi mengikuti Allah Israel. Dan Rut bukan sekadar menantu yang baik hati. Dalam rencana kekal Allah, Rut adalah mata rantai yang menghubungkan keluarga Naomi kepada Daud – dan akhirnya kepada Mesias itu sendiri (Matius 1:5). Naomi menghitung kerugiannya, sementara Tuhan sedang menyiapkan kemuliaan-Nya. Inilah tegangan (pergumulan) yang selalu hadir dalam kehidupan iman : antara realita yang menyakitkan dan janji yang belum terlihat. Di sinilah iman diuji – bukan iman yang menyangkal rasa sakit, tetapi iman yang tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan di dalam kekosongan.
Iman yang sejati bukan tidak merasakan kepahitan, tetapi tidak membiarkan kepahitan menjadi kata terakhir. Tangan yang tampak kosong di mata kita, mungkin sedang penuh di tangan Tuhan. Kita hanya melihat apa yang hilang, sementara Tuhan melihat apa yang sedang Ia bangun. Ada proses yang tidak kita mengerti, ada air mata yang belum terjawab, tetapi Tuhan tidak pernah bekerja tanpa tujuan. Melalui kehilangan, Tuhan mampu menghadirkan pemulihan dan pengharapan baru.
Jadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan hidup hanya dari musim yang kita jalani. Jika Tuhan belum selesai bekerja, maka cerita kita pun belum selesai. Di balik kepahitan yang terjadi, Ia menulis kisah anugerah yang indah pada waktunya. (DH)
Renungkan hari ini
- Apakah ada kehilangan atau keadaan dalam hidup yang saat ini membuat saya merasa datang kepada Tuhan dengan “tangan kosong”?
- Maukah saya mempercayai bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun saya belum dapat melihat rencana-Nya?
- Apa yang mungkin sedang Tuhan bangun melalui keadaan sulit yang sedang saya alami?
- Bagaimana saya dapat belajar menyerahkan kepahitan dan kekecewaan kepada Tuhan hari ini?
Doa
Tuhan, terkadang aku datang kepada-Mu dengan hati yang penuh kehilangan, kecewa, dan pertanyaan yang belum terjawab. Aku hanya melihat apa yang hilang dalam hidupku, tetapi hari ini aku mau belajar percaya bahwa tangan-Mu tetap bekerja.
Tolong aku untuk tidak menjadikan kepahitan sebagai akhir dari ceritaku. Berikan aku iman untuk percaya bahwa di balik keadaan yang tidak kumengerti, Engkau sedang mempersiapkan sesuatu yang baik sesuai dengan kehendak-Mu.
Pulihkan hatiku, kuatkan langkahku, dan ajar aku untuk tetap percaya kepada-Mu bahkan ketika tanganku terasa kosong. Aku percaya cerita hidupku belum selesai karena Engkau masih bekerja. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan