Bacaan kitab setahun: Lukas 8:1-25; Mazmur 119:89-176
“Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidikinya” (Ams 25:2)
Ada fase dalam hidup di mana logika berhenti bekerja. Kita sudah berpikir keras, menganalisa, mencari jawaban—tapi tetap saja tidak ketemu. Dan jujur saja, di titik itu yang muncul bukan damai, melainkan frustrasi. Kita dibesarkan dengan pola pikir: semua harus masuk akal. Semua harus bisa dijelaskan. Tapi hidup tidak bekerja seperti itu. Semakin dewasa, kita justru makin sadar—tidak semua hal bisa kita pahami.
Kita hidup di zaman yang serba pintar. Ilmu pengetahuan berkembang luar biasa. Banyak hal yang dulu dianggap misteri sekarang sudah terjawab. Penyakit ditemukan obatnya, sistem diperbaiki, teknologi mempermudah segalanya. Tapi tetap saja, ada ruang dalam hidup yang tidak tersentuh oleh penjelasan manusia. Ada kehilangan yang tidak bisa dijelaskan. Ada kejadian yang terasa tidak adil. Ada doa yang belum dijawab. Dan di situlah iman diuji.
Alkitab berkata: “Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidikinya” (Amsal 25:2). Artinya, ada bagian yang Tuhan sengaja tidak buka. Bukan karena Dia jauh, tapi karena Dia sedang membentuk kepercayaan. Masalahnya, kita sering salah arah. Kita ingin mengontrol semua hal—situasi, orang lain, bahkan Tuhan. Kita pikir kalau semuanya bisa kita pahami, hidup akan lebih tenang. Padahal justru sebaliknya : kelelahan datang karena kita mencoba mengambil posisi yang bukan milik kita. Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah : masa lalu, latar belakang, beberapa kejadian yang sudah terjadi. Itu bukan kesalahan kita. Itu bagian dari realita hidup.
Tapi ada satu hal yang selalu ada dalam kendali kita : respons kita. Hidup tidak selalu tentang apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana kita merespon apa yang terjadi. Di situlah kedewasaan rohani dibentuk. Bukan saat semua jelas, tapi saat kita tetap memilih percaya di tengah ketidakjelasan. Seorang teolog pernah berdoa: “Tuhan, beri aku ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, dan hikmat untuk membedakan keduanya.” Itu inti hidup yang dewasa. Karena pada akhirnya, iman bukan soal mengerti semuanya. Iman adalah keputusan untuk tetap percaya, bahkan saat kita tidak mengerti. Tidak bergantung pada jawaban tapi kehadiran-Nya yang menyertai kita.
Renungkan Hari Ini
- Adakah keadaan dalam hidup saya yang terus saya coba pahami atau kendalikan, padahal sebenarnya berada di luar kendali saya?
- Bagaimana selama ini saya merespons ketika Tuhan belum memberikan jawaban atas doa atau pergumulan saya?
- Apakah saya bersedia mempercayai Tuhan meskipun belum memahami rencana-Nya?
- Apa satu hal yang perlu saya lepaskan kepada Tuhan hari ini agar hati saya dapat mengalami damai?
Doa
Tuhan, aku mengakui bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat kupahami. Ada banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban dan keadaan yang tidak dapat kuubah. Ajarku untuk menerima keterbatasanku dan mempercayai-Mu lebih dalam. Berikan aku hikmat untuk membedakan apa yang harus kuubah dan apa yang harus kuserahkan kepada-Mu. Tolong aku untuk tetap percaya ketika jalan-Mu belum kupahami. Biarlah aku tidak hanya mencari jawaban, tetapi belajar menikmati kehadiran-Mu yang selalu menyertaiku. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan