Bacaan Kitab Setahun : Yakobus 3; Yes. 47-49.
“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” (Ibr. 11:24–25)
Iman yang sejati tidak berhenti pada kepercayaan atas karakter, firman, janji, dan pemerintahan Allah tetapi terus bertumbuh menjadi ketaatan kepada kehendak Sang Raja. Setelah seseorang belajar hidup berdasarkan karakter, firman, janji, dan pemerintahan Allah, ia akan mulai mengambil keputusan yang mencerminkan kepercayaannya kepada Allah.
Seperti seorang anak yang bertumbuh, demikian pula perkembangan iman kita. Seperti seorang anak yang awalnya, belajar mengucapkan bapanya. Namun ketika ia semakin dewasa, ia tidak hanya mengetahui bahwa bapanya dapat dipercaya, tetapi mulai memahami kehendak bapanya dan belajar menaatinya. Demikianlah perjalanan iman. Kepercayaan kepada Bapa berkembang menjadi ketaatan kepada kehendak-Nya.
Musa menjadi teladan bagaimana iman bertumbuh. Ibrani 11 menegaskan bahwa “setelah dewasa”, Musa mengambil sebuah keputusan besar. Ia menolak disebut anak puteri Firaun, sekalipun status itu menjanjikan kekuasaan, kenyamanan, dan masa depan yang terjamin. Musa memilih mengidentifikasi dirinya dengan umat Allah dan rela menderita bersama mereka.
Keputusan Musa bukan sekadar tindakan keberanian, melainkan buah dari iman. Ia melihat melampaui kemegahan Mesir dan memandang kepada penggenapan rencana Allah. Musa percaya bahwa kehendak Allah jauh lebih berharga daripada segala kehormatan yang ditawarkan dunia. Karena itu, imannya menghasilkan ketaatan yang nyata.
Sebagai orang percaya, kita pun dipanggil mengalami perkembangan iman yang sama. Percaya kepada Tuhan bukan hanya mengakui bahwa Dia sanggup menolong kita, tetapi juga bersedia mengikuti kehendak-Nya ketika pilihan itu menuntut pengorbanan. Terkadang kehendak Tuhan membawa kita keluar dari zona nyaman, kita harus mengambil keputusan yang menyakitkan orang yang menyakiti kita, kita harus hidup dalam integritas ketika memilih kompromi, atau kita harus tetap setia kepada Tuhan ketika dunia menawarkan jawaban instan.
Renungkan Hari Ini
- Apakah imanku selama ini hanya berupa pengakuan, atau sudah terlihat melalui ketaatan kepada kehendak Tuhan?
- Adakah kenyamanan, status, atau kesenangan yang sulit kulepaskan karena ingin tetap mengikuti Tuhan?
- Keputusan apa yang perlu kuambil hari ini sebagai wujud iman dan ketaatanku kepada Allah?
Doa
Tuhan, teguhkan imanku agar tidak berhenti pada kata-kata, tetapi nyata dalam ketaatan kepada kehendak-Mu. Berikan aku keberanian untuk memilih jalan-Mu sekalipun tidak mudah dan menuntut pengorbanan. Tolong aku untuk lebih mengutamakan kehendak-Mu daripada kenyamanan dan kesenangan dunia. Dalam nama Tuhan Yesus, amin

Tinggalkan Balasan