Bacaan Kitab Setahun : Ibrani 13; Yes. 39-41.
“Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi.” (Ima. 24:19-20)
Dunia mengenal prinsip : gigi ganti gigi, mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Pada zaman PL, hukum ini sebenarnya diberikan bukan untuk mendorong balas dendam, tetapi untuk membatasi pembalasan agar tidak berlebihan. Tuhan sedang mengajar Israel tentang proporsi keadilan. Jika seseorang menyebabkan kerugian, maka hukuman harus setimpal, bukan melampaui kesalahan.
Masalahnya, hati manusia jarang puas dengan keadilan. Luka emosional sering kali lebih besar daripada kerugian fisik. Walaupun pembalasan sudah dilakukan, hati tetap belum sembuh. Orang yang terluka sering masih menyimpan marah, dendam, dan keinginan untuk membalas lebih jauh lagi. Misalkan dua orang bertengkar lalu satu giginya tanggal karena dipukul. Menurut logika “gigi ganti gigi”, maka lawannya pun harus dibuat kehilangan satu gigi. Dan bila balasan pukulan membuat dua gigi tanggal, maka pertikaian baru dimulai lagi. Akhirnya bukan keadilan tapi kebencian yang tidak pernah selesai.
Itulah sebabnya Kristus membawa manusia kepada jalan yang lebih tinggi daripada sekadar keadilan hukum, yaitu kasih dan penyerahan hak pembalasan kepada Allah – Roma 12:17-19. Ini bukan berarti orang percaya harus menjadi lemah, pasif, atau membiarkan kejahatan terus terjadi. Roma 12:17-19 tidak sedang melarang keadilan hukum atau penegakan kebenaran. Tetapi ia sedang berbicara tentang hati yang tidak dikuasai dendam pribadi. Orang dunia membalas karena ingin memuaskan luka hatinya. Tetapi firman mendorong mempercayakan penghakiman kepada Tuhan. Bahkan Tuhan Yesus berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
Ini adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan natur manusia. Dunia berkata: “Balas!” Tetapi Kristus berkata: “Kasihi.” Dunia berkata: “Buat dia menderita!” Tetapi Kristus berkata: “Berdoalah untuk dia.” Mengapa Yesus mengajarkan demikian? Karena kasih adalah bukti bahwa kita benar-benar hidup dalam natur Bapa. Salib Kristus adalah bukti terbesar bahwa kasih lebih kuat daripada pembalasan. Dia tidak berkata: “Binasakan mereka!” Tetapi: “Ya Bapa, ampunilah mereka.”
Inilah kekristenan sejati, tidak hidup dengan prinsip “gigi ganti gigi”, melainkan dengan iman bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Tugas kita bukan membalas, tetapi hidup benar, mengampuni, dan tetap mengasihi meskipun kita sedang terluka. Saat kita menyerahkan pembalasan pada Tuhan, kita sedang memberi ruang bagi Allah bekerja dengan cara-Nya. (DD)
Renungkan Hari Ini
- Apakah masih ada luka atau kemarahan yang membuatku ingin membalas seseorang?
- Apa bedanya mencari keadilan dengan membalas karena dendam pribadi?
- Bagaimana aku dapat menyerahkan rasa sakitku kepada Tuhan tanpa mengabaikan kebenaran dan batasan yang sehat?
Doa
Tuhan Yesus, pulihkan hatiku dari luka, kemarahan, dan keinginan untuk membalas. Ajarku mengasihi seperti Engkau mengasihi, mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, dan menyerahkan keadilan ke dalam tangan-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan