Bacaan Kitab Setahun: Lukas 16; Ams. 19-21.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sekumpulan profesor diundang untuk menikmati suatu perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Begitu pintu ditutup dan pesawat siap untuk lepas landas, diberitahukan lewat pengeras suara bahwa pesawat yang mereka naiki adalah buatan murid-murid mereka. Sontak para profesor ini berlari berusaha untuk keluar dan menyelamatkan diri, kecuali ada satu orang profesor yang penuh percaya diri tetap duduk tenang di kursi pesawat itu. Seseorang bertanya kenapa dia tidak berusaha keluar dan ikut menyelamatkan diri bersama rekannya. Profesor itu menjawab dengan tenang, “Mereka adalah murid-murid kita.” Pertanyaan berikutnya: “Apakah engkau yakin bahwa engkau mengajar mereka dengan baik?” Sambil menghela napas sang profesor menjawab pelan, “Saya yakin pesawat ini tidak akan bisa terbang.”

Cerita tentang para profesor dan pesawat buatan muridnya ini lucu, tapi menampar. Semua lari panik saat tahu pesawat itu dibuat “hasil didikan mereka sendiri”. Hanya satu profesor yang tetap duduk, tapi alasannya bukan karena iman. Dia tenang karena dia tahu bahwa pesawat itu tidak akan bisa terbang.

Renungan ini bukan tentang pesawat. Ini tentang hasil. Kita semua sedang “mengajar” seseorang. Guru mengajar murid, orang tua mengajar anak, senior mengajar junior, kita mengajar orang di sekitar kita lewat perkataan dan kelakuan. Pertanyaannya bukan “Apakah aku sudah mengajar?” Tapi “Apa yang benar-benar mereka tangkap dan hidupi dari ajaranku?”

Banyak dari kita rajin mengajar memberi nasihat, aturan. Tapi saat “pintu ditutup” dan hasil didikan kita diuji di dunia nyata, kita justru paling takut masuk ke dalamnya. Artinya ada yang salah dengan proses pengajaran kita. 2Tim. 2:2 memberi polanya: Paulus tidak cuma mengajar, dia mencari orang yang “dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain juga.” Tujuannya bukan murid yang pintar teori, tapi murid yang bisa terbang sendiri. Profesor itu gagal bukan karena muridnya bodoh, tapi karena dia sendiri tidak yakin pada apa yang dia ajarkan. Dia mengajar, tapi tidak mentransfer iman, karakter, dan tanggung jawab.

Marilah kita bukan hanya menjadi pengajar yang pandai berbicara, tetapi juga teladan yang layak diikuti. Didiklah dengan kasih, integritas, dan ketekunan, sehingga melahirkan generasi yang setia dan mampu meneruskan nilai Kristus.

Renungkan Hari Ini

  • Apa yang sebenarnya orang-orang di sekitar saya tangkap dari perkataan dan kehidupan saya?
  • Apakah saya sudah menjadi teladan dari apa yang saya ajarkan?
  • Nilai iman dan karakter apa yang sedang saya transfer kepada generasi berikutnya?

Doa

Tuhan, jadikan hidup kami teladan yang dapat dilihat dan diikuti. Tolong kami agar apa yang kami ajarkan juga nyata dalam kehidupan kami, sehingga kami dapat membentuk generasi yang memiliki iman, karakter, dan tanggung jawab. Amin.

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *