Bacaan kitab setahun: Lukas 14:1-24; Amsal 10-12
“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Korintus 13:4-5)
Banyak orang memahami cinta dan kasih hanya sebagai perasaan. Ketika hati berdebar, emosi meluap, dan semuanya terasa indah, mereka berkata, “Aku jatuh cinta.” Namun ketika perasaan itu mulai memudar karena konflik, kesibukan, atau kekecewaan, mereka mulai mempertanyakan kasih itu sendiri. Perasaan bisa berubah sewaktu-waktu. Hari ini bisa merasa sangat bahagia, tetapi besok ia bisa kecewa/marah. Jika hubungan dibangun di atas emosi, maka hubungan itu akan rapuh.
Kasih sejati bukan sekadar perasaan atau emosi, melainkan sebuah keputusan yang lahir dari kehendak dan komitmen. Karena itu Allah memperkenalkan kasih agape—kasih tanpa syarat yang tidak bergantung pada keadaan. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar hubungan Allah dengan manusia, dan juga dasar hubungan dalam pernikahan maupun kehidupan sehari-hari orang percaya. Kasih sejati adalah sebuah keputusan untuk memilih tetap mengasihi bahkan ketika pasangan atau orang lain tidak memenuhi harapan kita. Itu sebabnya kasih membutuhkan kedewasaan rohani. Sangat mudah mengasihi orang yang selalu baik kepada kita, tetapi kasih sejati diuji ketika kita harus tetap mengampuni, tetap sabar, dan tetap menunjukkan kelembutan di tengah kekecewaan.
Tuhan Yesus memberi teladan kasih yang merupakan keputusan. Ia datang ke dunia bukan karena manusia layak dikasihi, tetapi karena kasih-Nya begitu besar. Di kayu salib, Yesus tetap memilih mengasihi bahkan ketika Ia ditolak, dihina, dan disalibkan. Kasih-Nya tidak berubah oleh perlakuan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan untuk mengasihi diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika suami memilih mendengarkan istrinya dengan penuh perhatian, itu adalah kasih. Ketika istri memilih menghormati suaminya di tengah kelemahannya, itu adalah kasih. Ketika seseorang memilih mengampuni daripada menyimpan kepahitan, itu adalah kasih. Kasih bukan hanya apa yang kita rasakan, tetapi apa yang kita lakukan.
Dunia mengajarkan bahwa kasih bertahan selama kita merasa bahagia. Namun Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih sejati tetap bertahan bahkan dalam musim yang sulit. Mari kita mengambil keputusan untuk mengasihi bukan dengan kasih yang bergantung pada perasaan sesaat, tetapi kasih yang lahir dari hati yang dipenuhi Roh Kudus. Ketika kita memilih mengasihi seperti Kristus mengasihi, maka hubungan kita akan ada dalam pemulihan, dan kemuliaan bagi nama Tuhan. (RSN)
Renungkan Hari Ini
- Apakah selama ini kasih saya lebih banyak didasarkan pada perasaan atau keputusan untuk tetap mengasihi?
- Siapa orang yang saat ini paling sulit saya kasihi atau ampuni?
- Tindakan nyata apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk menunjukkan kasih seperti Kristus?
- Apakah ada kepahitan yang perlu saya lepaskan agar kasih Tuhan semakin nyata dalam hidup saya?
Doa
Tuhan Yesus, ajar aku mengasihi bukan hanya ketika semuanya menyenangkan, tetapi juga ketika aku terluka dan kecewa. Berikan aku hati yang sabar, murah hati, mampu mengampuni, dan tetap setia seperti kasih-Mu kepadaku. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan