
Keluarga adalah komunitas kecil yang Tuhan anugerahkan dan percayakan kepada setiap orang percaya. Di sanalah kita belajar mengasihi, bertumbuh, melayani, dan mengalami pemulihan. Namun kenyataannya, tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Setiap keluarga memiliki pergumulan, perbedaan karakter, bahkan luka yang harus dipulihkan.
Di tengah meningkatnya angka perceraian, renggangnya hubungan orang tua dan anak, serta berbagai konflik rumah tangga, Firman Tuhan mengingatkan bahwa keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang bebas masalah, melainkan keluarga yang membangun hidup di atas Kristus.
“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.”
(Filipi 2:1)
1. Dasar Keluarga yang Sehat adalah Kristus
Keluarga yang Tuhan kehendaki selalu melibatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.
Kristus menuntun setiap anggota keluarga melalui Firman-Nya, Roh Kudus menghibur ketika ada masalah, menguatkan saat menghadapi pergumulan, serta mengajarkan kasih yang sejati.
“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.”
(Filipi 2:2)
Ketika Kristus menjadi pusat keluarga, setiap keputusan tidak lagi didasarkan pada ego, tetapi pada kasih dan kebenaran Firman Tuhan.
2. Bangun Kesatuan dalam Keluarga
Banyak konflik rumah tangga muncul karena setiap orang lebih sibuk menuntut daripada melayani.
Firman Tuhan mengajarkan agar setiap anggota keluarga memiliki kerendahan hati.
“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.”
(Filipi 2:3)
Kesatuan bukan berarti selalu sepakat, melainkan memiliki hati yang sama untuk mengutamakan Tuhan dan saling mengasihi.
3. Belajar Menghargai Satu Sama Lain
Suami, istri, orang tua, maupun anak dipanggil untuk saling menghormati.
Jangan menjadikan keluarga sebagai tempat saling menuntut atau mencari penghargaan. Sebaliknya, jadikan keluarga sebagai tempat saling membangun.
“Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
(Filipi 2:4)
4. Jangan Hidup dalam Keegoisan
Kristus telah memberikan teladan yang sempurna.
Walaupun memiliki segala kemuliaan, Yesus rela mengosongkan diri-Nya menjadi manusia demi menyelamatkan kita.
Filipi 2:5-7
Karena itu, keluarga yang sehat adalah keluarga yang setiap anggotanya rela mengalah, melayani, dan mengutamakan orang lain.
5. Jadilah Kepala Keluarga yang Bergaul dengan Tuhan
Alkitab mencatat bahwa Nuh hidup benar karena ia bergaul dengan Allah.
“Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”
(Kejadian 6:9)
Seorang ayah maupun ibu yang dekat dengan Tuhan akan mampu membawa keluarganya tetap berjalan di jalan yang benar.
Bahtera Nuh menjadi gambaran keluarga yang dibangun di atas ketaatan kepada Tuhan. Ketika badai datang, keluarganya tetap selamat karena mereka taat kepada Firman Tuhan.
6. Tinggalkan Masa Lalu dan Bangun Bahtera Baru
Sering kali konflik keluarga muncul karena luka masa lalu yang belum dipulihkan.
Nuh memasuki bahtera sebagai awal kehidupan yang baru. Demikian pula keluarga Kristen dipanggil untuk meninggalkan kepahitan, pengampunan yang tertunda, dan kebiasaan lama yang merusak hubungan.
Keluarga akan bertumbuh ketika setiap anggota bersedia dipulihkan oleh Tuhan.
Apa yang Harus Dilakukan untuk Membangun Keluarga yang Utuh?
1. Berhenti Mengeluh
Pasangan bukan musuh yang harus diubah, melainkan rekan yang Tuhan berikan untuk bertumbuh bersama.
Daripada terus mengeluh, belajarlah melihat bagaimana Tuhan sedang membentuk karakter melalui pasangan dan keluarga.
2. Fokus Mengendalikan Diri
Kita tidak dapat mengendalikan orang lain.
Namun kita dapat memilih bagaimana bersikap, berbicara, mengampuni, dan mengasihi.
Tuhan memanggil kita untuk setia menjalankan bagian kita, bukan memaksa orang lain berubah.
3. Jadikan Yesus Teladan Keluarga
Sebelum melayani banyak orang, Yesus terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada keluarga dan orang-orang terdekat.
Dalam pernikahan di Kana, Yesus pertama kali menyatakan mujizat-Nya demi menolong sebuah keluarga.
Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga peduli terhadap kehidupan rumah tangga kita.
Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan keluarga, doa bersama, membaca Firman, dan saling mendukung dalam kasih.
Penutup
Keluarga yang sempurna bukanlah keluarga tanpa masalah.
Keluarga yang sempurna adalah keluarga yang terus bertumbuh di dalam Kristus.
Ketika setiap anggota rela merendahkan diri, saling melayani, mengampuni, serta mengutamakan Tuhan, keluarga akan menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh dan menjadi kesaksian bagi dunia.
Kiranya setiap keluarga Kristen terus dibangun di atas dasar Kristus sehingga mampu menghadapi setiap badai kehidupan dengan iman dan kasih.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan