
Matius 6:33 adalah salah satu ayat yang paling sering dikutip oleh orang Kristen. Banyak orang menghafalnya, menuliskannya di media sosial, bahkan menjadikannya pegangan hidup. Namun ada satu bagian dari ayat ini yang sering terlewat. Ketika bagian itu dipahami, kita akan melihat bahwa ayat ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebutuhan yang dipenuhi.
Ayat itu berbunyi, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Selama ini, banyak orang memahami ayat ini sebagai janji bahwa Tuhan diprioritaskan, kebutuhan hidup akan dicukupkan. Pemahaman itu tidak salah. Namun sebenarnya ada pesan yang lebih dalam di balik kata “carilah”.
Dalam bahasa Yunani “carilah”, kata yang digunakan adalah zeteo. Kata ini bukan perintah yang dilakukan sekali lalu selesai. Maknanya adalah terus mencari, terus mengejar, dan terus menjadikannya fokus utama dalam kehidupan. Dengan kata lain, Yesus tidak sedang berbicara tentang tindakan sesaat, melainkan gaya hidup yang dilakukan setiap hari.
Lalu apa yang harus dicari? Yesus berkata, “Kerajaan Allah.” Banyak orang langsung menghubungkannya dengan surga. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bukan hanya tentang masa depan. Dalam Lukas 17:21, Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah ada di tengah-tengah mereka. Artinya, Kerajaan Allah sudah mulai bekerja sekarang, meskipun belum mencapai kepenuhannya.
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting. Jika Kerajaan Allah sudah hadir tetapi belum sepenuhnya digenapi, siapa yang melanjutkan perluasannya?
Jawabannya ditemukan dalam Matius 28:19, yang dikenal sebagai Amanat Agung. Sebelum naik ke surga, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Perintah ini bukan hanya untuk pendeta, penginjil, atau misionaris. Ini adalah panggilan bagi setiap pengikut Kristus. Semua orang percaya tanpa terkecuali. Dan memang itu panggilan Tuhan yang ditujukan kepada kita.
Menariknya, Amanat Agung tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh. Kisah Para Rasul 1:8 memberikan urutan yang jelas: Yerusalem, Yudea, Samaria, lalu sampai ke ujung bumi. Bagi kita, “Yerusalem” bisa berarti keluarga, pasangan, anak-anak, atau orang-orang terdekat yang setiap hari hidup bersama kita.
Alkitab memberikan contoh yang sederhana namun sangat kuat. Setelah Andreas bertemu Yesus, hal pertama yang ia lakukan bukan berkhotbah kepada banyak orang. Ia mencari Petrus, saudaranya sendiri, lalu berkata bahwa mereka telah menemukan Mesias. Dari langkah sederhana itu, Tuhan kemudian memakai Petrus untuk menjangkau ribuan orang.
Prinsip yang sama sebenarnya sudah ada jauh sebelum Amanat Agung diberikan. Dalam Ulangan 6:6-7, Tuhan memerintahkan agar firman-Nya diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak, baik ketika duduk di rumah, dalam perjalanan, saat berbaring, maupun ketika bangun. Ini menunjukkan bahwa keluarga selalu menjadi medan pelayanan pertama.
Karena itu, mencari Kerajaan Allah bukan sekadar berdoa agar hidup lebih baik atau kebutuhan tercukupi. Mencari Kerajaan Allah berarti menjadikan kehendak Tuhan sebagai prioritas dan mengambil bagian dalam perluasan Kerajaan-Nya, dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Mungkin selama ini Amanat Agung terdengar terlalu besar dan sulit dilakukan. Namun Alkitab menunjukkan bahwa langkah pertamanya sering kali sangat sederhana. Dimulai dari satu percakapan, satu doa, atau satu tindakan kasih kepada orang-orang yang Tuhan tempatkan paling dekat dengan hidup kita. Ketika kita sampaikan Injil mungkin mereka menolak kita tetapi mereka tidak bisa menolak doa kita, kita berdoa dan menangisi jiwa-jiwa agar anugrah keselamatan terjadi atas mereka. Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api kebinasaan. Yudas 1:23
Pada akhirnya, Matius 6:33 bukan hanya ajakan untuk mencari berkat Tuhan. Ini adalah panggilan untuk terus mengejar Kerajaan-Nya dan menjadikannya prioritas utama dalam setiap bagian kehidupan. Dan sering kali, semuanya dimulai dari rumah kita sendiri. Haleluya!
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan