Bacaan Kitab Setahun : Lukas 12:35-59; Amsal 1-3.

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”
(Kolose 3:9-10)

Kita hidup di zaman di mana sesuatu bisa terlihat benar, padahal tidak. Cukup dikemas rapi, diulang berkali-kali, dan didukung banyak orang-maka kebohongan bisa naik level jadi “kebenaran versi publik”. Inilah yang disebut hoaks : kebenaran palsu. Bohong hari ini bukan lagi sekadar ucapan, tapi sudah jadi sistem. Ada narasi, ada framing, bahkan ada “pembenaran moral.” Orang mulai bilang, “ini bohong kecil kok,” atau “ini demi kebaikan.” Tapi firman Tuhan tidak memberi kategori seperti itu. Yang jelas : “jangan saling mendustai.”

Kenapa? Karena sebagai orang percaya, kita sudah menanggalkan manusia lama. Artinya, kebohongan bukan lagi bagian dari identitas kita. Kita sekarang hidup sebagai manusia baru yang terus diperbaharui dalam pengetahuan yang benar-bukan sekadar opini, bukan asumsi, tapi kebenaran yang sesuai dengan gambar Tuhan.

Masalahnya, dunia digital membuat kita gampang jadi penyebar kebohongan tanpa sadar. Forward tanpa cek fakta. Share tanpa verifikasi. Kita tanpa berpikir. Kita tidak merasa sedang berbohong, tapi ikut memperbanyak kebohongan itu.

Dan ini yang perlu kita sadari : kebohongan yang diulang-ulang memang bisa terlihat seperti kebenaran, tapi tetap tidak pernah menjadi kebenaran. Cepat atau lambat, semua yang dibangun di atas kebohongan akan runtuh. Sama seperti rumah di atas pasir-kelihatan berdiri, tapi tidak punya fondasi. Begitu realita menghantam, semuanya hancur. Dan yang paling mahal : kepercayaan yang hilang sulit dipulihkan.

Jadi hidup dalam kebenaran bukan sekadar pilihan moral — ini soal identitas rohani. Artinya: Kita pilih jujur walau tidak nyaman. Kita menahan diri untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum pasti. Kita tidak membenarkan cara salah demi hasil yang terlihat benar. Karena kebenaran bukan soal siapa yang paling meyakinkan, tapi siapa yang benar di hadapan Tuhan.

Dunia mungkin terbiasa dengan kepalsuan, tetapi hidup orang percaya seharusnya menjadi terang yang membawa kejujuran, ketulusan, dan integritas. Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan pembelaan yang berlebihan-kebenaran akan tetap berdiri, karena Tuhan sendiri adalah sumber dari segala kebenaran. (DD)

Renungkan Hari Ini

  1. Apakah saya pernah menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu?
  2. Apakah ada situasi tertentu yang membuat saya tergoda untuk membenarkan kebohongan demi kenyamanan atau keuntungan?
  3. Bagaimana saya dapat menjadi pribadi yang membawa kejujuran dan integritas di tengah lingkungan saya?

Doa

Tuhan, ajar kami untuk hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Beri kami hikmat untuk menyaring setiap informasi dan keberanian untuk tidak ikut menyebarkan kepalsuan. Biarlah hidup kami menjadi terang yang mencerminkan kebenaran-Mu. Amin.

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *