Bacaan Kitab Setahun: 1 Pet. 2; Yes. 59-61
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah… namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Habakuk 3:17-18
Ada masa ketika dunia terasa runtuh di depan mata. Berita tentang bencana, kebakaran hutan dan lahan, banjir, harga kebutuhan yang naik, ketidakadilan sosial, hingga suara rakyat yang seolah tidak cukup didengar bisa membuat hati kita lelah. Kita bertanya, “Tuhan, sampai kapan keadaan seperti ini dibiarkan?”
Pertanyaan seperti itu juga pernah keluar dari hati Nabi Habakuk. Ia melihat kejahatan, kekerasan, dan ketidakadilan terjadi di sekelilingnya. Ia tidak pura-pura kuat atau menutupi kekecewaannya dengan penyembahan lewat kata-kata yang manis. Habakuk membawa keluh kesahnya langsung kepada Tuhan.
Namun kitab Habakuk tidak berhenti pada protes dan keluhan. Setelah mendengar jawaban Tuhan, keadaan tidak langsung berubah menjadi mudah. Ancaman tetap ada. Masa depan bangsa tetap terlihat berat. Bahkan Habakuk menggambarkannya dengan keadaan yang sangat sulit : pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, ladang tidak menghasilkan, dan ternak lenyap dari kandang.
Gambaran itu terasa dekat dengan kehidupan kita. Ada orang yang tetap bekerja keras, tetapi hasilnya belum cukup. Ada keluarga yang cemas menghadapi biaya hidup. Ada masyarakat yang terdampak bencana dan merasa tidak tahu harus mulai lagi dari mana. Ada juga yang kecewa melihat keadaan bangsa, lalu merasa imannya ikut goyah.
Tetapi di tengah semua itu, Habakuk berkata, “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” (Ayat 18)
Ini bukan sukacita yang lahir karena keadaan baik-baik saja. Ini adalah penyembahan yang lahir dari hati yang sudah bergumul, menangis, bertanya, tetapi tetap memilih percaya kepada Allah.
Habakuk mengajarkan bahwa doa tidak selalu langsung mengubah keadaan di luar kita, tetapi doa bisa mengubah cara hati kita berdiri di tengah keadaan itu.
Keluh kesah yang dibawa kepada Tuhan dapat berubah menjadi penyembahan yang lebih murni, bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena kita kembali melihat bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
Renungkan Hari Ini
- Keluhan atau kekecewaan apa yang sedang memenuhi hati saya saat menghadapi keadaan saat ini?
- Apakah saya tetap dapat mempercayai Tuhan ketika jawaban dan perubahan belum terlihat?
- Bagaimana saya dapat mengubah keluhan menjadi doa dan penyembahan yang tulus hari ini?
Doa
Tuhan, Engkau mengetahui setiap pergumulan dan kekecewaan yang ada di hatiku. Ampuni aku ketika keadaan membuatku kehilangan pengharapan. Ajarku datang kepada-Mu dengan jujur dan tetap percaya sekalipun situasi belum berubah. Biarlah hatiku tetap menyembah-Mu karena Engkau adalah Allah yang menyelamatkan dan memegang kendali atas hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.

Tinggalkan Balasan