Bacaan Kitab Setahun : Lukas 20:1-26; Pkh. 1-3.
“Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:47-48 – TB)
Di tengah kerumunan orang banyak yang mengikuti Yesus, ada seorang buta bernama Bartimeus yang berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Secara manusiawi, Bartimeus dapat dikatakan sebagai orang yang tidak memiliki harapan maupun masa depan. Sejak kecil ia tidak dapat melihat dan hidup sepenuhnya dari belas kasihan orang lain. Alkitab mencatat bahwa ia duduk di pinggir jalan sambil mengemis. Sehingga banyak orang memandang sebelah mata meremehkan.
Itulah kecenderungan manusia. Sering kali kita masih membeda-bedakan seseorang berdasarkan status atau kedudukannya. Kita lebih mudah mengasihi orang yang mengasihi atau peduli kepada kita. Syukur kepada Yesus Kristus Tuhan, Pribadi yang tidak pernah memandang rendah siapa pun. Tak pernah meninggalkan mereka yang dipandang hina oleh dunia. Bahkan, teriakan Bartimeus sanggup menghentikan langkah Yesus.
Bartimeus percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Meskipun buta secara jasmani, mata rohaninya terbuka sehingga ia mengenali siapa Yesus sebenarnya. Ia percaya bahwa Yesus sanggup melakukan perkara-perkara ajaib karena Dialah Tuhan yang Mahakuasa, Dokter di atas segala dokter. Ketika Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Bartimeus menjawab dengan penuh iman, “Tuhan, supaya aku dapat melihat.” Ia tidak meminta kekayaan, umur panjang, ataupun hal-hal lainnya. Ia berfokus pada kebutuhan terbesarnya, yaitu agar matanya dipulihkan.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan Tuhan sebagai fokus utama hidup kita? Sudahkah seruan doa kita lahir dari iman yang sungguh-sungguh? Ironisnya, kita yang dapat melihat secara jasmani sering kali gagal melihat kesetiaan dan kebaikan Tuhan dalam hidup. Bahkan, pengenalan kita kepada Tuhan bisa lebih rendah daripada Bartimeus yang buta. Karena itu, marilah kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus dan percaya dengan segenap hati. Sebab, man yang mengenal Yesus akan menolong kita melihat kasih dan kuasa-Nya dalam setiap musim kehidupan. (AU)
Renungkan hari ini
- Apakah selama ini kita lebih banyak melihat keadaan dengan mata jasmani daripada melihat kebaikan Tuhan dengan iman?
- Apa yang dapat kita pelajari dari ketekunan Bartimeus ketika berseru kepada Yesus?
- Dalam pergumulan yang sedang kita hadapi, apakah kita sungguh menjadikan Tuhan sebagai fokus utama?
Doa
Tuhan Yesus, ajar kami untuk memiliki iman seperti Bartimeus, tetap percaya dan berseru kepada-Mu sekalipun keadaan tidak mudah. Bukalah mata rohani kami agar kami dapat melihat kasih dan kuasa-Mu dalam setiap musim kehidupan. Amin.
Artikel terkait

Tinggalkan Balasan