“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” — Mazmur 34:18
Bayangkan, seorang anak kecil berdiri di tengah-tengah medan perang. Tidak ada tentara ataupun tank, hanya ada dua orang yang seharusnya menjadi dunia bagi anak itu: Ibu dan Ayah. Saat hinaan melayang bagaikan batu dan suara-suara menggelegar penuh kata-kata kotor, anak itu tidak melarikan diri. Sebaliknya, ia justru berada tepat di “zona netral” (no-man’s-land) itu, dengan tangan² mungil mencengkeram kaki ibunya, memohon agar badai itu segera reda. Pada saat itu, anak tersebut bukan sekadar seorang saksi; ia sedang menyerap setiap pukulan dan setiap jeritan hingga ke lubuk jiwanya yang terdalam.
Anggaplah hati seorang anak sebagai sebuah cermin yang jernih dan tenang. Di dalam rumah tangga yang sehat, cermin itu memantulkan kasih orang tua mereka dan, pada akhirnya, kasih Allah. Namun, ketika sebuah rumah dipenuhi dengan kekerasan dan amarah, rasanya seolah-olah sebuah palu yang berat sedang menghantam cermin itu berulang kali.
Kacanya tidak hanya sekadar retak; ia hancur berkeping² menjadi ribuan pecahan yang tajam. Bahkan jika pertengkaran itu berhenti keesokan harinya, sang anak tetap harus berusaha melihat dirinya sendiri melalui pecahan² cermin yang hancur itu. Pandangannya tentang rasa aman, kasih bahkan tentang Allah menjadi terdistorsi dan terasa menyakitkan untuk dipandang.
Menyaksikan pertikaian rumah tangga merupakan beban yang sangat berat bagi pundak yang begitu kecil. Dampak dari pengalaman ini sering kali muncul dalam bentuk-bentuk berikut:
# Hipervigilansi (Kewaspadaan Berlebih):
Anak tersebut menjadi sangat ahli dalam “membaca situasi ruangan,” senantiasa menanti-nanti kapan ledakan emosi berikutnya akan terjadi. Mereka tidak pernah bisa benar-benar merasa rileks.
# Rasa Bersalah (Parentifikasi):
Anak-anak sering kali merasa bahwa menjadi tugas merekalah untuk memperbaiki pernikahan orang tua atau melindungi orang tua yang sedang disakiti. Ketika mereka gagal melakukannya, mereka harus memikul beban kegagalan yang sangat berat dan menghimpit jiwa.
# Disregulasi Emosi:
Karena mereka tidak pernah melihat cara-cara yang sehat untuk mengelola amarah, mereka mungkin akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat agresif, atau sebaliknya, mereka akan “menutup diri” dan menarik diri ke dalam cangkang perlindungan mereka sendiri. Anak ini mengalami apa yang disebut sebagai “Disregulasi Emosi” artinya, ia tidak memiliki kemampuan untuk mengatur, mengelola atau mengendalikan intensitas dan respons emosional mereka secara tepat. Hal ini menimbulkan reaksi emosi yang terlalu kuat, meledak-ledak, atau berkepanjangan yang tidak sesuai dengan situasi, serta sulit menenangkan diri.
Siklus trauma memang memiliki kekuatan yang sangat besar, namun hal itu bukanlah sebuah hukuman seumur hidup yang tak terelakkan. Berikut adalah dua contoh mengenai bagaimana jalan kehidupan ini dapat bercabang ke arah yang berbeda:
Bagaimana Kita Dapat Membantu Anak Tersebut?
Jika Anda mengenal seorang anak yang berada dalam situasi ini, atau jika Anda adalah anak tersebut di masa lalu, ada jalan menuju pemulihan:
• Ciptakan sebuah Tempat Perlindungan:
Seorang anak membutuhkan setidaknya satu tempat di mana ia merasa 100% aman. Entah itu rumah kakek-nenek atau ruang kelas Sekolah Minggu, sebuah “zona damai” sangatlah penting.
• Konseling Profesional:
Trauma ibarat luka fisik; sering kali ia membutuhkan seorang dokter. Konseling Kristiani dapat membantu seorang anak untuk “merekatkan kembali” kepingan-kepingan cermin kehidupannya dengan cara yang sehat.
• Sampaikan Kebenaran:
Ingatkan anak tersebut—secara terus-menerus—bahwa semua itu bukanlah salahnya. Ia bukanlah wasit yang bertugas menengahi, dan ia bukanlah penyebab badai yang sedang terjadi.
• Perkenalkan Bapa yang Sejati:
Ketika orang tua di dunia ini gagal, kita harus mengarahkan anak-anak kepada Bapa Surgawi. Ajarkan kepada mereka Matius 19:14, di mana Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.” Biarkan mereka tahu bahwa mereka memiliki seorang Pelindung yang tidak pernah kehilangan kesabaran-Nya dan yang kasih-Nya merupakan “dasar yang teguh.”
Pertanyaan yang harus kita jawab adalah:
“Bagaimana kita sebagai sebuah komunitas dapat mengidentifikasi dengan lebih baik tanda-tanda ‘tak kasat mata’ dari tekanan emosional pada anak-anak yang, di permukaan, tampak ‘baik-baik saja’?”
Apa saja cara-cara praktis yang dapat dilakukan oleh gereja lokal untuk menyediakan “zona damai” bagi anak-anak yang berasal dari lingkungan rumah yang penuh konflik?
Harry Lee MD; PsyD; BBS | Pastor dan Gembala Restoration Christian Church – Los Angeles

Tinggalkan Balasan