
Hari ini, kita akan sama-sama belajar mengenai bagaimana membangun rumah tangga yang tetap kuat dalam menghadapi badai kehidupan.
Setiap rumah tangga pasti akan ada maupun akan menghadapi “badai”. Tidak ada keluarga yang hidupnya selalu cerah-cerah saja. Setiap rumah tangga, sebahagia apa pun kelihatannya dari luar, akan menghadapi badai mereka sendiri. Karena itu, kita perlu untuk mengundang Tuhan Yesus hadir di keluarga kita sebagai Nakhoda yang utama untuk menuntun keluarga kita.
Dalam membangun keluarga, kita perlu membangun fondasi yang kuat. Apakah fondasi yang kita gunakan? Seharusnya, fondasi kita adalah firman Tuhan. Mendengar dan melakukan firman Tuhan diibaratkan seperti mendirikan rumah di atas batu yang teguh.
Matius 7 : 24 – 25, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Selanjutnya, di atas fondasi itu harus ada beberapa pilar. Setidaknya, ada empat pilar untuk menjadi penopang rumah tangga yang kuat:
1. Pilar komunikasi yang jujur (Efesus 4 : 25).
Berdusta dapat menjadi benih kesalahpahaman di dalam keluarga. Terkadang juga kesalahpahaman itu tidak mengenakkan, dan menyedihkan, tetapi kita dapat membawa hal itu ke hadapan Tuhan untuk diselesaikan bersama.
2. Pilar kasih yang tidak egois
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1Korintus 13:4-5)
Seharusnya, di dalam keluarga kita, anggota-anggotanya tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memperhatikan keadaan atau menyakiti perasaan orang lain. Mengapa demikian? Supaya sewaktu menghadapi “badai yang kuat” dalam hidup ini, kita dapat bersama-sama menghadapinya.
3. Pilar pengampunan yang terus-menerus
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kol. 3:13). Di dalam sebuah rumah tangga, pasangan kita, orang tua kita dan anak-anak kita tidaklah sempurna. Akan ada banyak kesalahan dan banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, perlu adanya pengampunan yang terus menerus sama seperti Tuhan telah mengampuni kita.
4. Pilar tujuan dan visi yang sama
“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” (Amos 3:3)
Selanjutnya, apa lagi yang firman Tuhan katakan tentang apa yang harus kita lakukan dalam membangun rumah tangga?
• Berdiri sebagai sebuah tim, bukan suatu musuh.
• Berdoa bersama-sama (family that prays together, stays together).
• Meminta bantuan pemimpin rohani ataupun seorang konselor pernikahan.
Pengkhotbah 4 : 12, “Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”
Membangun rumah tangga dengan fondasi dan pilar-pilar di atas akan membuat rumah tangga setiap kita tahan dalam menghadapi badai apa pun yang ada dan terjadi di dalam kehidupan kita.
“Family like branches on a tree. We may grow in different directions, yet our roots remain as one.” Keluarga adalah seperti ranting-ranting pohon. Kita mungkin dapat tumbuh ke arah yang berbeda, tetapi akar kita tetaplah satu, yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus. _pdp. charlie jeremiah
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan