Bacaan Kitab Setahun : Filemon; Yes. 13-16.

“Tetapi Ia harus melintasi daerah Samaria.” (Yohanes 4:4 – PBTB2)

Hidup manusia berjalan dalam dua dimensi yang tidak terpisahkan : natural dan supranatural, Dimensi natural berbicara tentang pola hidup yang dibentuk oleh kebutuhan, kebiasaan, dan keputusan manusiawi. Namun dimensi supranatural menunjuk pada inisiatif Allah yang bekerja melampaui logika manusia, mengarahkan hidup kepada tujuan ilahi yang kekal. Dalam terang Kerajaan Allah, keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus ditundukkan di bawah kedaulatan kehendak Allah.

Ketika Injil mencatat bahwa Yesus “harus” melintasi Samaria, kata “harus” (dei – bahasa Yunani) mengandung makna keharusan ilahi, bukan sekadar pilihan geografis. Secara budaya dan sosial, orang Yahudi lazimnya menghindari Samaria. Namun Yesus tidak digerakkan oleh preferensi manusiawi, melainkan oleh mandat surgawi, Ia sedang berjalan dalam orbit kehendak Bapa. Ini adalah gerakan supranatural-sebuah misi yang lahir dari hati Allah untuk menjangkau yang terbuang.

Pertemuan dengan perempuan Samaria bukan kebetulan, melainkan penetapan ilahi. Di tengah panas terik, saat orang lain menghindari jam tersebut, wanita itu datang menimba air. Yesus menemuinya tepat di titik kehausan eksistensialnya. Di sana, Ia menyatakan diri sebagai Mesias dan menawarkan air hidup. Respons wanita itu membuktikan kuasa misi supranatural : Ia percaya, lalu menjadi alat kesaksian yang membawa banyak orang Samaria datang kepada Kristus.

Di sinilah kita melihat pola Kerajaan Allah : Allah mengutus, Kristus melangkah, Roh Kudus bekerja, dan manusia merespons. Misi bukan sekadar aktivitas gerejawi, melainkan pergerakan ilahi yang mengalir melalui ketaatan manusia. Hidup yang hanya digerakkan oleh naturalitas akan berputar pada kepentingan diri. Namun hidup yang tunduk pada supranatural akan menjadi saluran keselamatan bagi orang lain.

Pertanyaannya buat kita : apakah hidup kita hanya bergerak berdasarkan kenyamanan dan rutinitas, ataukah kita peka terhadap dorongan Roh Kudus yang menuntun kita kepada jiwa-jiwa? Kekristenan sejati bukan hanya tentang percaya, tetapi tentang misi. Jika Kristus hidup di dalam kita, maka arah hidup kita seharusnya mengikuti arah misi-Nya. Keluar dari zona nyaman dan menjangkau jiwa-jiwa.

Renungkan Hari Ini

  1. Apakah kehidupan saya lebih banyak digerakkan oleh kenyamanan dan rutinitas atau oleh kehendak Tuhan?
  2. Apakah saya peka terhadap dorongan Roh Kudus untuk menjangkau orang lain?
  3. Langkah apa yang dapat saya lakukan untuk ikut ambil bagian dalam misi Kristus?

Doa

Tuhan Yesus, tuntunlah kami agar hidup dalam kehendak-Mu dan peka terhadap pekerjaan Roh Kudus. Pakailah kami menjadi alat untuk menjangkau jiwa-jiwa dan menyatakan kasih-Mu kepada banyak orang. Amin.

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *