Pernah merasa hidup berjalan, tapi seperti tidak benar-benar bergerak ke mana-mana?
Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulang hal yang sama. Sudah berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, tetapi belum ada kabar. Sudah mencoba memperbaiki kondisi keuangan, tetapi kebutuhan terus berdatangan.

Sudah menunggu hubungan menjadi lebih serius, tetapi arahnya masih belum jelas. Atau mungkin Anda sedang berada di titik ketika semua orang terlihat maju, sementara hidup sendiri terasa begitu saja.

Fase seperti ini sering membuat kita mempertanyakan banyak hal. Apakah aku kurang berusaha? Apakah aku salah mengambil keputusan? Kenapa hidup orang lain seolah lebih cepat berkembang? Sampai kapan aku harus berada di kondisi ini? Perasaan stuck memang tidak menyenangkan. Namun, hidup yang terasa mandek tidak selalu berarti hidup Anda benar-benar berhenti.

  1. Jangan Biarkan Rasa Stuck Membuat Anda Diam

Saat merasa hidup tidak berkembang, reaksi yang paling mudah adalah kehilangan semangat. Kita mulai berpikir, “Untuk apa mencoba lagi kalau hasilnya tetap sama?”

Padahal, salah satu cara keluar dari fase stuck adalah tetap melakukan hal-hal kecil yang masih berada dalam kendali kita.

Jika sedang mencari pekerjaan, tetap kirim lamaran sambil meningkatkan kemampuan. Jika kondisi keuangan sedang sulit, mulai evaluasi pengeluaran dan cari peluang baru. Jika merasa karier tidak berkembang, pertimbangkan keterampilan apa yang bisa dipelajari.

Kita memang tidak dapat mengendalikan kapan kesempatan datang, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana mempersiapkan diri ketika kesempatan itu muncul.

Masalahnya, kita sering menganggap perubahan hanya berarti sesuatu yang besar. Padahal terkadang perubahan dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

  1. Berhenti Mengukur Hidup dari Timeline Orang Lain

Media sosial membuat hidup orang lain terlihat seperti rangkaian keberhasilan.

Ada teman yang baru menikah, mendapat promosi, membeli rumah, membuka bisnis baru, ada juga orang-orang yang terlihat sedang menikmati hidup yang selama ini kita inginkan. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita. “Dia sudah sampai sana, kenapa aku masih di sini?”

Tetapi kita sering lupa bahwa yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari perjalanan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu melihat tahun-tahun perjuangan, kegagalan, penolakan, dan penantian yang ada di belakangnya.

Membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan orang lain hanya membuat fase stuck terasa semakin berat. Setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda.

Karena itu, daripada bertanya, “Kenapa aku belum seperti mereka?” atau berucap “When ya?”, mungkin pertanyaan yang lebih sehat adalah, “Apa yang bisa aku kerjakan dengan baik di musim hidupku aku sekarang?”

  1. Jangan Ambil Keputusan Besar Hanya karena Panik

Saat terlalu lama berada dalam ketidakpastian, kita mudah tergoda untuk mengambil jalan pintas.

Karena takut terlalu lama menganggur, kita menerima pekerjaan yang sebenarnya memiliki potensi bahaya. Karena takut sendirian, kita mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Karena ingin terlihat berhasil, kita mengambil keputusan finansial yang sebenarnya belum mampu kita tanggung.

Keputusan tersebut mungkin memberi rasa lega sementara karena setidaknya “ada sesuatu yang berubah”. Namun, perubahan tidak selalu berarti kemajuan.

Di sinilah kita membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dan melihat hidup dari perspektif yang lebih luas.

Alkitab menceritakan Abraham dan Sara yang pernah mendapat janji dari Tuhan tentang keturunan. Namun, karena janji itu tidak segera terjadi, mereka mencoba mempercepatnya dengan cara mereka sendiri. Keputusan tersebut justru membawa konflik baru ke dalam keluarga mereka. Kisah ini menunjukkan bahwa ketidaksetabaran dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya tidak perlu diambil.

Tidak semua keterlambatan berarti kegagalan dan tidak semua hal perlu dipaksakan terjadi sekarang.

  1. Mungkin Hidup Anda Tidak Stuck, tetapi Sedang Dipersiapkan

Perspektif iman menawarkan cara lain untuk melihat masa-masa ketika hidup terasa diam.

Alkitab mencatat banyak orang yang harus melewati masa panjang sebelum kehidupan mereka berubah. Yusuf pernah memiliki mimpi besar tentang masa depannya. Namun setelah itu, hidupnya justru bergerak ke arah yang tampaknya semakin buruk, ia dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara.

Jika melihat kehidupannya pada saat itu, mudah sekali menyimpulkan bahwa semuanya telah gagal.

Namun bertahun-tahun kemudian, Yusuf menyadari bahwa ada gambaran yang lebih besar dari apa yang dahulu bisa ia lihat. Ia berkata dalam Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Ada proses yang baru dapat dimengerti setelah kita melewatinya dan mungkin itu yang sedang terjadi dalam hidup kita. Bisa jadi pekerjaan yang belum datang sedang memberi waktu untuk mempersiapkan kemampuan yang baru. Masa kesendirian sedang membantu kita mengenali diri sendiri lebih dalam. Kesulitan finansial sedang mengajarkan cara mengelola hidup dengan lebih bijaksana.

Yesaya 40:31 berkata, “Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mendapat kekuatan baru.”

Menariknya, ayat tersebut tidak menjanjikan bahwa semua masalah langsung selesai. Yang Tuhan berikan terlebih dahulu adalah kekuatan untuk terus berjalan.

Jadi, jika hidup saat ini terasa stuck dan gitu-gitu aja, jangan langsung menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang sedang terjadi.

Tetaplah mengerjakan bagian yang bisa kamu kerjakan hari ini. Evaluasi apa yang perlu diperbaiki. Jangan bandingkan perjalananmu dengan orang lain. Dan jika Anda percaya kepada Tuhan, berikan ruang bagi-Nya untuk bekerja bahkan dalam musim yang belum Anda mengerti. Terkadang, fase yang terlihat paling sepi adalah masa ketika fondasi sedang dibangun. Ketika waktunya tiba untuk melangkah lagi, kamu mungkin akan menyadari bahwa ternyata masa menunggumu itu tidak pernah benar-benar sia-sia._Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *