Pacaran yang sehat bukan berarti dua orang harus selalu bersama, selalu tahu semua aktivitas pasangan, atau bebas melakukan apa saja atas nama cinta. Justru, ada kalanya sebuah hubungan membutuhkan batas yang jelas.

Boundaries bukan tanda posesif, melainkan kesepakatan untuk menjaga diri, pasangan, dan arah hubungan agar tidak berjalan terlalu jauh dari nilai yang dipercaya.

Prinsip ini pernah dibagikan oleh pasangan influencer sebuah media sosial. Dalam hubungan mereka, keduanya menyepakati beberapa batas yang dianggap penting untuk menjaga hubungan sekaligus iman.

Mereka juga menegaskan bahwa pilihan tersebut bukan untuk menghakimi pasangan lain, melainkan karena mereka memahami batas dan kelemahan diri sendiri.

Mau jaga boundaries untuk menyelamatkan hubungan dan iman kamu? Ikuti 3 aturan ini:

1. Membatasi Kedekatan Fisik Sebelum Menikah

Salah satu boundaries yang mereka sepakati adalah tidak berciuman bibir sebelum menikah. Bagi mereka, kedekatan fisik tertentu bisa menjadi pemicu untuk melangkah lebih jauh dari yang sebenarnya mereka inginkan.

Karena itu, mereka memilih membuat batas sejak awal. Ini bukan sekadar aturan tentang boleh atau tidak boleh, tetapi soal mengenali diri sendiri. Anak muda juga bisa belajar dari prinsip ini. Jangan menunggu sampai berada dalam situasi yang sulit dikendalikan baru memikirkan batas.

2. Menghindari Situasi yang Membuat Batas Mudah Dilanggar

Saat masih menjalani hubungan jarak jauh, memutuskan dan memilih tidak menginap di tempat yang sama ketika bertemu. Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa tempat terpisah. Ketika bepergian, mereka lebih memilih pergi bersama keluarga dan menghindari hanya berduaan di satu ruangan.

Pilihan ini menunjukkan bahwa boundaries bukan hanya soal mengatakan, “Aku percaya sama kamu.” Tentu saja kepercayaan tetap penting, tetapi menjaga situasi juga sama pentingnya. Mereka pun mempertimbangkan dampak pilihan mereka terhadap keluarga, bukan hanya kenyamanan berdua.

3. Membawa Hubungan Kembali kepada Tuhan

Menariknya, batas yang mereka buat tidak berhenti pada hal fisik. Setiap kali hubungan memasuki tahap yang lebih serius, mulai dari PDKT, pertunangan, hingga menjelang pernikahan, mereka memilih berpuasa dan meminta tuntunan Tuhan.

Bagi mereka, puasa menjadi pengingat bahwa hubungan tersebut bukan hanya tentang perasaan dua orang. Ada Tuhan yang tetap ingin mereka tempatkan sebagai pusat dan arah hubungan.

Tentu, setiap pasangan bisa memiliki boundaries yang berbeda. Namun, prinsipnya tetap sama. Batas yang sehat seharusnya bukan digunakan untuk mengontrol pasangan, tetapi untuk saling menjaga.

Ketika dua orang berani membicarakan kelemahan, menyepakati batas, dan terus membawa hubungan kepada Tuhan, boundaries bukan lagi terasa seperti larangan. Justru, batas itulah yang bisa menolong hubungan tetap sehat dan iman tidak perlahan dikorbankan.

Kalau kamu saat ini sudah terlanjur melewati boundaries yang kamu tetapkan dan sekarang dibayangi rasa bersalah atau merasa berdosa, jangan biarkan perasaan itu membuatmu semakin menjauh dari Tuhan. Ingatlah bahwa Dia datang untuk orang berdosa.

Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *