Bacaan Kitab Setahun: 1 Timotius 5; Mazmur 69–71
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)
Dalam kehidupan, setiap pribadi maupun keluarga tentu mengarahkan tujuan hidupnya untuk meraih keberhasilan. Orang tua bekerja keras demi masa depan keluarga dan pendidikan anak-anak. Hal ini bukan sesuatu yang salah.
Namun tanpa disadari, kita sering mengabaikan satu kenyataan hidup, yaitu kegagalan. Firman Tuhan menegaskan bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan yang dapat dialami oleh siapa saja.
Dalam kehidupan berkeluarga, kegagalan dapat terjadi pada siapa pun, baik ayah, ibu, anak, maupun suami istri. Kegagalan bisa muncul dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam aspek kesehatan, misalnya ketika anggota keluarga mengalami penyakit serius, kecacatan, atau memiliki kebutuhan khusus. Dalam aspek ekonomi, kegagalan dapat berupa PHK, usaha bangkrut, atau menjadi korban penipuan. Mazmur 34:19 berkata:
“Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.”
Tanpa respons yang benar, kegagalan dapat berkembang menjadi depresi, kecenderungan menyakiti diri sendiri (self-harm), bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
Lalu bagaimana merespons kegagalan dengan benar?
Pertama, terimalah kenyataan bahwa kegagalan memang terjadi. Jangan menutupinya dengan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan seperti menyangkal, menyalahkan orang lain, atau melampiaskan emosi kepada orang lain.
Kedua, pandanglah kegagalan sebagai kesempatan untuk datang kepada Tuhan melalui pertobatan, pembelajaran, dan pembentukan karakter.
Ketiga, jangan ragu mencari dukungan dari komunitas maupun tenaga profesional seperti konselor, psikolog, psikiater, atau dokter apabila diperlukan.
Terakhir, keluarga perlu saling mendukung agar setiap anggotanya berani menghadapi konsekuensi kegagalan dalam anugerah Tuhan. Jangan malu menjalani proses pemulihan, sebab Tuhan sanggup memakai setiap kegagalan untuk membentuk kehidupan yang lebih dewasa.
Renungkan Hari Ini:
- Bagaimana saya selama ini menyikapi kegagalan?
- Apakah saya datang kepada Tuhan ketika mengalami kegagalan atau justru menjauh dari-Nya?
- Siapa yang dapat saya ajak berbicara dan berdoa ketika menghadapi masa-masa sulit?
Doa:
Bapa yang penuh kasih, ajarku untuk tidak menyerah ketika mengalami kegagalan. Berikan kekuatan agar aku tetap percaya bahwa Engkau sanggup memulihkan setiap keadaan. Tolong aku memiliki kerendahan hati untuk belajar, menerima pertolongan, dan tetap berharap kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan