Bacaan Kitab Setahun : Lukas 13:22-35; Amsal 7-9.
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
(Matius 17:20)
Banyak orang percaya hidup berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Ketika keadaan terlihat sulit, mereka menjadi takut. Ketika doa belum dijawab, mereka mulai ragu. Kehidupan penuh iman tidak berarti kita menyangkal kenyataan. Iman juga bukan berpura-pura bahwa masalah tidak ada, tetapi iman adalah memilih percaya bahwa kuasa Tuhan lebih besar daripada masalah yang sedang dihadapi.
Perumpamaan ini tidak mengajarkan tentang besar kecilnya iman, melainkan tentang sifat iman yang hidup dan murni. Biji sesawi adalah salah satu benih terkecil, tetapi memiliki kehidupan di dalamnya dan mampu bertumbuh menjadi besar. Yesus sedang mengajarkan tentang iman yang hidup, walaupun terlihat kecil, tetapi mampu menghasilkan dampak besar ketika ditempatkan kepada Tuhan yang benar. Iman sejati bukan tentang seberapa kuat, tapi seberapa besar kita mempercayai Tuhan.
Iman adalah keyakinan bahwa realitas Kerajaan Allah lebih tinggi daripada keadaan dunia. Mungkin saat ini ada “gunung” di depan kita yang terasa tidak mungkin dipindahkan. “Gunung” dalam hidup kita bisa berbicara tentang sakit, pergumulan ekonomi, keluarga yang belum dipulihkan, pelayanan yang terasa berat, atau doa yang belum dijawab. Secara manusia, semua itu terlihat mustahil. Tetapi Yesus berkata bahwa iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan “gunung”. Artinya, Tuhan tidak sedang mencari orang yang sempurna, melainkan hati yang mau percaya dan bersandar kepada-Nya.
Ketidakpercayaan lahir ketika seseorang lebih percaya pada apa yang terlihat daripada pada apa yang Tuhan katakan. Itulah sebabnya banyak orang kehilangan pengharapan ketika keadaan tidak berubah. Mereka fokus pada besarnya gunung masalah, bukan pada kebesaran Tuhan.
Iman sebesar biji sesawi adalah keberanian untuk mengundang realitas surga masuk ke situasi hidup kita yang mustahil. Walaupun kecil, iman itu tetap percaya, tetap berharap, tetap berdoa dan tetap bertindak. Banyak mujizat terjadi bukan karena kita memiliki “iman yang sempurna,” tetapi karena kita mau memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. (RSN)
Renungkan Hari Ini
- Apa “gunung” terbesar yang sedang saya hadapi saat ini?
- Apakah saya lebih sering melihat besarnya masalah atau memandang kebesaran Tuhan?
- Dalam hal apa saya perlu belajar kembali untuk percaya, berharap, berdoa, dan bertindak bersama Tuhan?
Doa
Tuhan, terkadang kami lebih mudah melihat besarnya masalah daripada besarnya kuasa-Mu. Berikan kami iman untuk tetap percaya, berharap, dan bersandar kepada-Mu. Mampukan kami menyerahkan setiap “gunung” dalam hidup kami ke dalam tangan-Mu. Amin.
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan