Pernah nggak, Mama Papa menghadapi anak yang setiap kali pergi ke mal, minimarket, atau melihat iklan di handphone langsung berkata, “Aku mau itu!”? Fase ini cukup umum terjadi, apalagi ketika anak mulai mengenal barang-barang lucu, mainan baru, jajanan menarik, atau benda yang sedang tren di antara teman-temannya.
Untuk menghadapi fase ini, orang tua tentu perlu belajar 4 cara jitu menghadapi anak yang lagi pengen belanja terus, supaya anak tidak tumbuh dengan kebiasaan selalu ingin dituruti. Sebab dalam kehidupan nyata, kita tidak selalu bisa mendapatkan semua yang kita inginkan secara instan. Ada proses yang perlu dilalui, mulai dari menunggu, menabung, memilih dengan bijak, bahkan belajar berkata “cukup”.
Sebagai orang tua, mungkin Mama Papa pernah bingung harus merespons seperti apa.
Apakah langsung berkata, “Tidak boleh!” atau “Mama Papa tidak punya uang”? Jawaban seperti itu memang bisa menghentikan permintaan anak saat itu juga, tapi belum tentu membuat anak mengerti alasan di baliknya.
Langkah pertama yang penting adalah jangan langsung menolak dengan tegas. Cobalah validasi dulu perasaan anak. Misalnya dengan berkata, “Mainan itu memang lucu ya, kamu suka karena warnanya bagus?”
Dengan begitu, anak merasa didengar. Setelah itu, Mama Papa bisa mengajak anak menunda keputusan, “Kita lihat lagi beberapa hari ke depan ya. Kalau kamu masih benar-benar mau, kita bicarakan lagi.”
Cara ini melatih anak untuk tidak impulsif saat menginginkan sesuatu. Selain itu, sebaiknya Mama Papa juga mengajarkan 4 hal berikut untuk menghadapi anak yang lagi ada di fase pengen segalanya:
1. Buat Kesepakatan Aturan Belanja
Sebelum pergi ke tempat yang berpotensi membuat anak ingin jajan atau belanja, buatlah aturan sederhana. Misalnya, anak boleh membeli barang di momen tertentu seperti ulang tahun, Natal, momen kenaikan kelas, atau ketika sudah berhasil menabung. Mama Papa bisa menentukan juga batas anggaran yang jelas.
Dengan kesepakatan ini, anak belajar bahwa belanja bukan sesuatu yang dilakukan setiap saat. Ia juga belajar menghargai momen khusus dan memahami batasan.
2. Terapkan Aturan “Ada Tempat, Baru Boleh Beli”
Rumah yang terus diisi barang baru, lama-lama akan penuh. Karena itu, Mama Papa bisa mengajarkan konsep sederhana seperti kalau mau membeli barang baru, harus ada tempat untuk menyimpannya. Jika lemari atau kamar anak sudah penuh, bisa juga menerapkan sistem “in-out”. Artinya, jika ada barang baru yang masuk, harus ada barang lama yang keluar. Barang yang rusak bisa dibuang, sedangkan barang yang masih bagus bisa diberikan kepada orang lain atau dijual sebagai barang preloved. Dari sini, anak belajar bertanggung jawab atas barang yang ia miliki.
3. Kenalkan Konsep Needs vs Wants
Anak perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang benar-benar diperlukan, seperti makanan, pakaian, dan perlengkapan sekolah. Sementara keinginan adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak selalu harus dimiliki saat itu juga.
Konsep ini bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana. Misalnya, “Sepatu sekolah kamu sudah sempit, jadi itu kebutuhan. Tapi mainan baru ini keinginan, jadi kita bisa pikirkan dulu.” Dengan cara ini, anak belajar membuat prioritas sejak kecil.
4. Kenalkan Konsep Uang dan Proses Mendapatkannya
Jangan anggap anak kecil tidak bisa mengerti soal uang. Justru sejak dini, anak perlu dikenalkan bahwa uang bukan muncul begitu saja. Ada kerja keras, waktu, dan tanggung jawab di baliknya.
Mama Papa bisa mengajarkan anak menabung untuk barang yang ia inginkan. Atau melakukan pekerjaan rumah untuk mendapatkan upah atas jasanya. Dengan begitu, anak bisa belajar bahwa perlu usaha untuk menghasilkan uang dan membeli barang yang diinginkan.
Mama Papa perlu mendidik anak bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki banyak barang. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada. Nilai ini penting ditanamkan sejak kecil, supaya anak tidak mudah dikuasai oleh keinginan.
Hal yang tidak kalah penting, bicarakan aturan ini saat anak sedang tenang, bukan ketika ia sedang menangis atau meraung-raung tantrum saat menginginkan sesuatu. Ketika kondisi emosi tinggi, anak sulit memahami perkataan orang tua. Pilih waktu yang tepat, tanpa banyak distraksi, lalu jelaskan dengan kasih dan konsisten.
Menghadapi anak yang ingin belanja terus memang butuh kesabaran. Dengan 4 cara jitu menghadapi anak yang lagi pengen belanja terus ini, semoga Mama Papa bisa membantu anak belajar mengelola keinginan, memahami nilai uang, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak.
Saat menghadapi anak yang terus ingin belanja, orang tua kadang bukan hanya butuh tips, tetapi juga kekuatan dan hikmat dari Tuhan untuk tetap sabar, konsisten, dan penuh kasih.
Sumber : Berbagai Sumber
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan