Pernahkah kamu merasa hidup ini seperti tidak pernah lepas dari masalah? Baru saja melewati satu masalah, tiba-tiba datang lagi masalah lain yang membuat hati jadi berat.
Ketika ini terjadi, mungkin terlintas di pikiran kita, “Kenapa masalah ga ada habisnya ya? Menderita terus…”
Apakah manusia memang hidup dan diciptakan untuk merasakan penderitaan?

Mari bicara jujur. Kita bisa melihat penderitaan dimana-mana, bahkan di lingkungan terdekat kita sekalipun. Misalnya, dalam perjalanan pulang, kita melihat ada orang-orang yang tidak memiliki rumah, duduk atau bahkan tidur di pinggir jalan hanya beralas kardus.

Atau bahkan ada orang yang kelaparan meminta makanan karena tidak memiliki uang. Bahkan, kita juga bisa melihat seseorang kehilangan orang yang paling mereka cintai.

Kemudian kita merasa dunia ini tidak adil, dunia ini penuh luka, dan tidak sempurna. Dari mana awal semua penderitaan ini berasal?

Sejak awal, kehidupan manusia sebenarnya tidak dirancang untuk dipenuhi penderitaan. Dalam kisah penciptaan, dunia digambarkan sebagai tempat yang “sangat baik”.
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31)
Bahkan manusia diciptakan menurut gambar-Nya dan diberi kebebasan untuk menikmati ciptaan-Nya. (Kejadian 1:29)

Namun, Tuhan memberikan satu batasan yang tercatat dalam kitab Kejadian 2:16-17, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”

Ketika manusia memilih untuk tidak taat, dosa masuk ke dalam dunia. Dari sinilah penderitaan mulai muncul dan memengaruhi seluruh kehidupan manusia. (Roma 8:22)
Itulah sebabnya penderitaan terasa begitu dekat dan tidak pernah benar-benar hilang.

Lalu, Apakah Penderitaan Memiliki Arti Tertentu?
Meskipun berat, tetapi penderitaan yang kita alami tentu memiliki makna yang berarti. Penderitaan mengingatkan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh Tuhan.
2 Korintus 12:9 menunjukkannya dengan sangat jelas, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Penderitaan membuat kita belajar percaya, bersandar, dan berharap. Bahkan Rasul Petrus mengingatkan bahwa pencobaan bukanlah sesuatu yang aneh. (1 Petrus 4:12)

Penderitaan sering kali menjadi “alarm” yang membangunkan kita. Ketika kita tidak sanggup lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri, kita mulai mencari pertolongan Tuhan.
Pada titik itulah kita belajar, penderitaan mengajarkan bahwa kita tidak sekuat yang kita kira, dan itu bukan hal yang buruk. Bahkan, banyak orang justru mengalami pertumbuhan terbesar dalam hidupnya saat berada di masa-masa sulit.

Karakter dibentuk, empati tumbuh, dan cara pandang terhadap hidup berubah. Jadi, meskipun penderitaan menyakitkan, ia tidak selalu kosong tanpa tujuan.

Mengapa Penderitaan Terasa Tidak Pernah Berakhir?
Kabar baiknya, penderitaan tidak akan berlangsung selamanya. Meskipun hari ini terasa berat, Alkitab memberikan pengharapan yang jelas bahwa apa yang kita alami sekarang hanyalah sementara. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Kor. 4:17). Ia memberikan janji akan masa depan, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” 2 Korintus 5:1. Artinya, penderitaan yang kita alami hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada harapan yang lebih besar menanti kita.

Jumat Agung Membawa Harapan dari Penderitaan Kekal
Lalu, dari mana datangnya harapan itu?
Jawabannya ada dalam peristiwa Jumat Agung.

Yesus Kristus datang ke dunia dan mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia ditolak, disiksa, bahkan mati di kayu salib. Ia tidak kebal dengan penderitaan, justru Ia mengalami penderitaan yang begitu luar biasa untuk menanggung dosa manusia supaya kita tidak perlu mengalami penderitaan abadi.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi keselamatan dan kehidupan yang kekal. Inilah alasan mengapa kita bisa memiliki harapan, sekalipun berada di dunia yang penuh penderitaan.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam masa yang sulit. Merasa lelah, bingung, atau bahkan sendirian menghadapi semuanya. Tuhan peduli dengan setiap penderitaan yang kita alami, dan Dia rindu menolong melewati semua ini._ Ethnos Bible Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *