Kamu sudah berdoa. Kamu sudah percaya. Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Namun sakit yang kamu alami belum juga sembuh. Hutang masih menumpuk. Dan orang yang paling kamu percaya justru menjadi orang yang paling melukai hatimu. Di tengah semua itu, mungkin pernah muncul satu pertanyaan yang sulit diucapkan: Kalau Tuhan benar-benar baik, kenapa hidupku masih seperti ini?
Pertanyaan ini bukan hal baru. Alkitab mencatat kisah seseorang yang pernah berada di titik yang sangat gelap dalam hidupnya, yaitu Ayub. Menariknya, Ayub bukan orang yang hidup jauh dari Tuhan. Justru Tuhan sendiri menyebutnya sebagai orang yang tidak bercela, saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan.
Namun dalam satu hari, hidup Ayub berubah total. Hartanya lenyap, anak-anaknya meninggal, dan tubuhnya dipenuhi penyakit yang menyakitkan. Ketika melihat penderitaan itu, orang-orang di sekitarnya segera menyimpulkan bahwa Ayub pasti melakukan dosa besar dan sedang dihukum Tuhan.
Tetapi Alkitab berkata sebaliknya. Ayub adalah orang benar. Bahkan Tuhan menegur teman-temannya karena salah berbicara tentang penderitaannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa penderitaan tidak selalu berarti seseorang sedang dihukum atau ditinggalkan Tuhan.
Lalu mengapa Tuhan mengizinkannya?
Alkitab tidak memberikan jawaban yang sederhana. Dalam Yesaya 55:8-9, Tuhan berkata bahwa jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan manusia dan pikiran-Nya lebih tinggi daripada pikiran manusia. Ada hal-hal yang tidak selalu bisa kita pahami ketika sedang berada di tengah penderitaan.
Yang paling mengejutkan dari kisah Ayub adalah responsnya. Saat hidupnya berada di titik terendah, ketika ia belum melihat pemulihan apa pun, Ayub berkata, “Aku tahu bahwa Penebusku hidup.” Ia tidak mengucapkannya setelah semuanya membaik. Ia mengucapkannya ketika masih berada di tengah rasa sakit. Ayub memilih percaya kepada karakter Tuhan meskipun belum melihat jawabannya.
Alkitab juga memberikan penghiburan yang kuat. Mazmur 34:18 berkata bahwa Tuhan dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya. Roma 8:28 menegaskan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Dan akhirnya, Wahyu 21:4 memberikan sebuah janji yang penuh harapan: Tuhan akan menghapus segala air mata, dan tidak akan ada lagi dukacita, ratap tangis, maupun penderitaan.
Kebaikan Tuhan tidak diukur dari hilangnya masalah, melainkan dari penyertaan-Nya yang memberi kekuatan di tengah badai hidup. Tuhan lebih tertarik mengubah karakter dan kapasitas internal kita daripada sekadar mengubah situasi eksternal. Mungkin hari ini kamu masih bergumul dengan sakit yang belum sembuh, beban ekonomi yang belum teratasi, atau luka yang belum pulih. Namun kisah Ayub mengingatkan satu hal: penderitaan hari ini bukan akhir dari ceritamu. _Jawaban.com
Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan