Bacaan Kitab Setahun : Lukas 6; Maz. 110-114.

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24 – TB)

Kata terbatas sering kali dianggap momok. Pembatasan dipahami sebagai pengekangan, seolah-olah segala sesuatu menjadi tidak boleh dilakukan. Kalaupun diperbolehkan, hanya sebagian atau sangat sedikit. Kebanyakan orang percaya ternyata tidak luput dari pengaruh cara pandang yang mengagungkan kebebasan. Bayangkan ketika Yesus membatasi ruang gerak yang dahulu terasa begitu bebas. Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu; melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38–39). Apakah hal itu mungkin dilakukan?

Bayangkan, saat hukum “mata ganti mata” diterapkan. Kita merasa bebas melampiaskan pembalasan dan memuaskan amarah di dalam hati. Kelegaan seolah muncul ketika kemarahan dicurahkan tanpa kendali untuk membalas terpuaskan. Karena itu, tidak mengherankan jika perkataan Tuhan Yesus, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,” terasa tidak menyenangkan. Bahkan lebih sulit lagi ketika kita diminta mendoakan dan memberkati mereka.

Lalu, di manakah letak kenikmatan dalam keterbatasan? Pertanyaan ini mungkin terdengar sinis, karena banyak orang beranggapan bahwa kenikmatan hanya dapat ditemukan dalam kebebasan tanpa batas. Inilah salah satu keyakinan yang banyak dianut manusia masa kini, yang sering kali bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus.

Ajaran kasih Kristus kerap dianggap sebagai kebodohan. Jika orang yang berbuat jahat didoakan dan diberkati, kapan ia akan menyadari kesalahannya? Kita perlu memahami bahwa terbatas tidak sama dengan tidak berdaya. Justru sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi wujud kekuatan yang besar. Dengan membatasi diri, kita mampu menyingkirkan dorongan untuk membalas dendam. Kita tidak lagi diperbudak oleh amarah atau keinginan untuk menyakiti kembali.

Menyangkal diri juga berarti membatasi diri. Kita tidak lagi hidup menuruti hawa nafsu tanpa kendali. Di situlah letak keindahannya. Keterbatasan yang diajarkan Kristus menghadirkan kebaikan bagi banyak orang. Keterbatasan yang lahir dari kasih dan ketaatan kepada Tuhan bukanlah beban, melainkan sebuah kenikmatan yang membawa damai dan kehidupan. (AU)

Renungkan Hari Ini

  1. Dalam hal apa saya selama ini sulit membatasi diri, terutama ketika sedang marah, kecewa, atau terluka?
  2. Apakah saya masih sering menganggap kebebasan berarti boleh melakukan apa saja yang saya inginkan?
  3. Adakah seseorang yang sulit saya ampuni atau doakan? Maukah saya belajar menyerahkan keinginan untuk membalas kepada Tuhan?
  4. Apa bentuk menyangkal diri yang Tuhan sedang minta saya lakukan dalam kehidupan saya saat ini?

Doa

Tuhan Yesus, ajarilah kami memahami bahwa keterbatasan yang lahir dari kasih dan ketaatan kepada-Mu bukanlah sebuah beban. Tolong kami untuk mampu menyangkal diri, mengendalikan amarah, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Ketika kami terluka, berikan kami kekuatan untuk mengampuni. Ketika kami diperlakukan tidak adil, ajarilah kami untuk menyerahkan pembalasan kepada-Mu. Mampukan kami mendoakan dan memberkati orang-orang yang menyakiti kami. Biarlah hidup kami tidak dikuasai oleh dendam dan kepahitan, tetapi oleh kasih dan damai Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Artikel terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *