Bacaan Kitab Setahun: 2 Tesalonika 1; Mazmur 41-44
“Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Timotius 3:4-5)
Seorang hamba Tuhan di Jakarta menulis sebuah buku yang berjudul “Keluargaku Adalah Sorgaku”.
Sebuah buku yang menginspirasi umat Tuhan untuk menjadikan keluarganya sebagai keluarga Allah. Keluarga hamba Tuhan ini memang patut dicontoh, karena berhasil membawa keluarganya hidup sesuai firman Tuhan.
Rasul Paulus dalam 1Tim. 3:15, orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Keluarga adalah jemaat dari Allah, oleh karena itu keluarga harus menjadi tiang penopang bagi kehidupan dan menjadi dasar kebenaran yaitu berdasarkan firman. Kalau keluarga kuat–gereja akan kuat–akhirnya masyarakat dan bangsa juga akan kuat. Keluarga yang kuat harus menjadi doa kita dan biarlah di dalamnya ada karakter Kristus.
Kita melihat contoh yang buruk dari keluarga Imam Eli (1Sam. 2:27-36) yang mempunyai dua anak Hofni dan Pinehas yang menjadi imam di Silo (1Sam. 1:3b). Tuhan ternyata tidak suka dengan keluarga ini, karena perbuatan kedua anaknya yang memandang rendah korban untuk Tuhan, melakukan hal-hal yang jahat perbuatan asusila, tetapi Imam Eli tidak bisa menegurnya, bahkan mereka tidak mendengarkan perkataan ayahnya itu. Akhirnya TUHAN murka dan menghukum keluarga ini. Hofni dan Pinehas mati karena hukuman dari Tuhan, demikian juga Imam Eli juga meninggal (1Sam. 4:17-18).
Keluarga merupakan institusi pertama yang didirikan Tuhan. Sejak awal Tuhan memandang keluarga sebagai elemen penting dalam mencapai tujuan Tuhan bagi umat manusia. Karena itu tidak heran jika Iblis menargetkan serangannya pada keluarga. Sebagai orang tua kita harus bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita, karena itu firman Tuhan berkata “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Amsal 29:17).
Membangun dan melahirkan keturunan ilahi tidaklah semudah dan sesederhana kita berkata. Seorang kepala keluarga bertanggung jawab mendidik, memelihara dan mendoakan keluarganya dengan prinsip-prinsip rohani sesuai dalam Alkitab. Seorang kepala keluarga harus mampu memberikan keteladanan kepada anak-anaknya untuk terus berkembang sesuai firman Tuhan.
Renungkan Hari Ini:
- Apakah keluarga saya dibangun di atas dasar Firman Tuhan?
- Sudahkah saya menjadi teladan rohani bagi anggota keluarga?
- Apakah saya lebih fokus membangun karakter anak daripada sekadar memenuhi kebutuhan mereka?
- Bagaimana saya dapat menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuh dalam Kristus?
Doa:
Bapa di Surga, terima kasih atas keluarga yang Engkau percayakan kepada kami. Tolong kami agar mampu memimpin, mendidik, dan mengasihi keluarga sesuai dengan Firman-Mu. Jadikan rumah kami tempat bertumbuhnya iman, kasih, dan kebenaran sehingga nama-Mu dimuliakan melalui kehidupan keluarga kami. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Artikel terkait:
- Pria Sebagai Fondasi Keluarga
- Keluargaku Gereja Pertamaku
- Misi Keluargaku
- Andalkan Iman Bagi Pemulihan Keluarga
- Konsultasi Keluarga Kristen
- Screening Tumbuh Kembang Anak
- Parenting Kristen
- Renungan Harian Kristen

Tinggalkan Balasan